Jumat, 09 Januari 2009

Fiqh an-Nisa - asy Syaikh al-Albani

Bagian kedua:
[Pasal : Menggauli Wanita Haidh pada Farjinya]
Dan diharamkan seorang lelaki menyetubuhi wanita haid pada farjinya, tapi dibolehkan untuk bermesraan tanpa jima’. Hukum ini berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik, “Bahwasanya orang Yahudi jika para wanitanya mengalami haid, memperlakukan mereka dengan buruk dan tidak berkumpul dengan mereka di dalam rumah. Para sahabat Nabi  menanyakan hal tersebut kepada beliau, maka turunlah ayat,
ﭽ ﮠ ﮡ ﮢﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ...
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : haid adalah kotoran, maka tinggalkanlah wanita-wanita haid……” sampai akhir ayat.
Lalu Rasulullah  bersabda,
اصنعوا كل شيئ إلا النكاح. وفي لفظ : إلا الجماع
“Lakukan apa saja kecuali nikah”, dalam lafazh yang lain : kecuali jima’ “
Hadits ini adalah riwayat al-Jama'ah kecuali al-Bukhari.

Dan Rasulullah  juga bersabda,
من أتى حائضا أو امرأة في دبرها أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم
“Barangsiapa mendatangi (menyetubuhi) wanita haid atau (menyetubuhi) wanita di duburnya, atau mendatangi tukang ramal dan membenarkan perkataannya, maka ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi Wassalam.”
Hadits ini riwayat para penulis kitab as-Sunan dengan sanad yang shahih, sebagaimana dijelaskan dalam “Naqdut Taaj” No. 64.
Haramnya menyetubuhi wanita haid adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.
Berdasarkan hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin al-Hasan serta Ishaq dan selainnya berpendapat bahwa menyetubuhi wanita di tempat selain yang disebut dalam hadits ini dibolehkan, dan di makruhkan bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam keharaman, Dimana ia dianggap tindakan pencegahan, agar jangan sampai hal itu menjadi mediator yang membuatnya terjatuh ke dalam hal yang haram.
Maka bagi siapa yang melakukan perbuatan terlarang, seperti yang disebut dalam hadits ini, hendaknya ia bersedekah satu atau setengah dinar. Ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas dari Nabi  ,yang memerintahkan orang yang mendatangi istrinya yang sedang haid, agar ia bersedekah satu atau setengah dinar.
Haditsnya diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dengan sanad yang shahih. Al-‘Allamah Ahmad Muhammad Syakir menganalisa secara panjang lebar tentang sanad hadits ini, dan tentang dishahihkannya hadits ini oleh sebagian ulama, dalam ta’liqnya atas Sunan At-Tirmidzi ( 1 / 246 – 254).

[Pasal: Larangan Shalat dan Puasa bagi wanita yang sedang Haidh]
Wanita haid tidak shalat dan juga tidak puasa. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada para wanita :
أليس شهادة المرأة مثل نصف شهادة الرجل؟ قلن بلى . قال : (فذلكن من نقصان عقلها أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم ؟) قلن : بلى. قال : فذلك من نقصان دينها
“Bukankah persaksian wanita itu sama dengan setengah persaksian lelaki ?” Para wanita menjawab, “Benar”, Beliau bersabda, “Itulah yang menunjukkan kekurangan akalnya. Bukankah wanita jika sedang haid ia tidak shalat dan tidak puasa ?” Para wanita menjawab lagi, “Benar’”. Beliau bersabda lagi, “Itulah yang menunjukkan kekurangan agamanya.“ (HR. al-Bukhari).

Wanita yang haid harus mengqadha puasanya dan tidak perlu mengqada shalatnya. Ini berdasarkan riwayat dari Mu’adzah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana seorang yang haid harus mengqada’ puasa namun tidak perlu mengqadha shalat?" Beliau berkata, “Ketika kami masih bersama Rasulullah , kami pernah mengalaminya. Maka kami diperintahkan untuk mengqada’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat”. (HR. Al-Jama’ah).

[Larangan Thawaf bagi wanita yang sedang Haidh]
Wanita haid juga tidak boleh melakukan thawaf di Ka’bah berdasarkan sabda Nabi ,
الحائض تقضي المناسك كلها إلا الطواف بالبيت
“Wanita haid boleh melakukan semua manasik haji kecuali tawaf di Ka’bah”.
Haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad (6/137) dari Aisyah dan (1/364) dari Ibnu Abbas. Kedua riwayat ini saling menguatkan satu sama lain, dan maknanya tercantum dalam Ash-Shahihain.

[Wanita Haidh turut menghadiri Shalat al-'Ied dan Bertakbir akan tetapi Tidak turut serta mengerjakan Shalat al-'Ied]
Hendaknya wanita haid juga menghadiri shalat ‘Ied, bertakbir bersama dengan jamaah, meskipun Ia tidak shalat. dari Ummu Athiyah, ia berkata, “Pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah  memerintahkan agar kami membawa keluar para budak, wanita haid dan wanita-wanita –yaitu para gadis- yang tinggal di dalam rumah. Walaupun wanita haid tidak melakukan shalat, namun tetap dapat menyaksikan kebaikan yang ada di dalamnya dan dakwahnya kaum muslimin. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab (pakaian luar yang menutup aurat), maka beliau bersabda,
لتلبسها أختها من جلبابها
“Hendaknya saudara perempuannya meminjamkan jilbab untuknya”.
Dan dalam riwayat lain, “Dahulu kami, orang-orang tua dan para gadis, diperintah untuk keluar pada dua hari raya." lalu beliau berkata lagi, wanita haid juga ikut keluar duduk di belakang orang-orang dan ikut bertakbir."
Hadits riwayat Muslim (3/20 – 21). Silahkan dirujuk pada riwayat al-Bukhari pada pembahasan shalat dua hari ‘Ied dan selainnya.

[Wanita yang sedang Haidh boleh Masuk ke Masjid]
Wanita haidpun boleh masuk ke masjid, berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ia berkata, “Rasulullah  bersabda padaku, “Ambilkan untukku al-Khumrah (tikar) di masjid. Akupun menjawab, “Aku sedang haid”. Beliau  bersabda,
تناوليها فإن الحيض ليست في يدك
“Ambilkanlah, sesungguhnya haidnya bukan di tanganmu”.
(Muslim: 168, Abu Daud: 41, an-Nasa`i (1/52,53,68), at-Tirmidzi (1/241) dan dishahihkan olehnya, ad-Darimi (248), Ibnu Majah (218), Ahmad (6/45, 101, 106, 110, 111, 114, 173, 179, 208, 214, 229, 245) dari banyak jalur yang berasal dari Aisyah.
Dan dalam bab ini juga ada riwayat yang berasal dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa`i, Ahmad (2/428, 6/214) dan yang berasal dari Ummu salamah yang diriwayatkan oleh an-Nasa`i dan Ahmad (6/331, 334) dan dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Ahmad (2/70 & 86) dan dari Anas yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan dari dari Abu Bakrah yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam “al-Kabir”. Semua ini terdapat dalam “al-Majma’ “(1/283).
Ibnu Hazm (2/184-187) juga membolehkan bagi wanita untuk masuk ke masjid. Beliau menghikayatkan pendapat tersebut dari al-Muzani, Daud dan yang lainnya.

[Interaksi dalam hal makan, minum dan selainnya dengan wanita yang sedang Haidh]
Melakukan interaksi dengan wanita haid juga merupakan hal yang dibolehkan. Dari Aisyah, Ia berkata, “Aku pernah minum, ketika aku sedang haid, lalu aku memberikan minumku kepada Nabi  . Dia meletakkan bibirnya di bekas tempat bibirku pada tempat minum kami”.
Hadits di atas adalah riwayat al-Jamaah kecuali al-Bukhari dan at-Tirmidzi. Juga terdapat dalam Al Musnad (6/62-64, 127, 192, 210 & 214) dan Sunan ad-Darimi (1/246).
Dan telah berkata Abdullah bin Sa’d : “Aku bertanya kepada Nabi  tentang hukum berinteraksi dengan wanita haid. Beliaupun bersabda, “Berinteraksilah dengannya."
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1/240), ad-Darimi (248) dan Ahmad (4/342 & 5/293) dari Abdur Rahman bin Mahdi dia berkata bahwa Mu’awiyah bin Shalih telah menceritakan kepada kami dari al-Ala’ bin Al Harits dari Haraam bin Mu’awiyah dari Abdullah.
Dan at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan. Dan hadits ini memang seperti yang beliau katakan (sanadnya hasan).
Kemudian ad-Darimi juga mengeluarkan hadits ini (1/249) dari jalan al-Haitsam bin Humaid berkata bahwa al-'Ala` bin al-Harits telah menceritakan kepada kami, dengan lafazh sebagai berikut, “Rasulullah  telah bersabda,
إن بعض أهلي لحائض وإنا لمتعشون إن شاء الله جميعا
"Sesungguhnya beberapa orang dari keluargaku sedang haid dan kami tetap tinggal bersama Insya Allah”.
Dan tidak diperbolehkan menggauli wanita kecuali setelah wanita tersebut hanya mengalami istihadhah dan telah mandi. Karena mandi merupakan kewajiban atasnya, sebagaimana Firman Allah ‘azza wajalla,
ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ
"Dan janganlah kalian mendekati mereka sampai mereka telah suci”.
Dan suci disini ditandai dengan berhentinya haid,
ﮱ ﯓ
“Dan jika mereka telah suci” yaitu telah mandi,
ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ
“Maka datangilah (gaulilah) mereka di tempat yang telah Allah perintahkan untuk kalian” (Qs.Al-Baqarah:222).
Ini madzhab mayritas ulama. Lihat juga pada Sunan ad-Darimi (249-251) dan “Nailul Maraam” yang ditulis oleh Siddiq Hasan Khan.
dapun wanita mustahadhah, sepanjang yang kami ketahui, tidak ada pengkhususan sunnah Nabi dalam hal ini. Para ulama telah berbeda pendapat dalam hal menggauli wanita mustahadhah. mayoritas ulama membolehkannya. Dan inilah pendapat yang benar, karena asal dari segala sesuatu itu adalah boleh. Sedangkan larangan dalam hal ini mengandung mudharat bagi pasangannya. Apalagi jika istihadhah itu berkelanjutan, sebagaimana yang terjadi pada Ummu Habibah binti Jahsy dalam hadits terdahulu.
Alangkah bagusnya hadits yang diriwayatkan oleh ad-Darimi (207) dengan sanad yang shahih dari Salim al-Afthas, ketika berkata, Said bin Jubair ditanya, “Apakah engkau menggauli wanita mustahadhah?” Beliau menjawab, “Shalat lebih agung daripada jima’."
Dan yang semisal itu pula diriwayatkan dari Bakr bin Abdullah al-Muzani dengan sanad yang shahih juga.
Dan haid yang paling sedikit adalah sekali semburan/pancaran. Dan jika seorang wanita melihat darah hitam keluar dari farjinya, maka hendaklah ia menahan diri dari shalat dan puasa …. dan jika ia melihat sisa darah yang merah ….. artinya ia telah suci (“Al Muhalla” 2/191).
(Ats Tsamar Al Mustathab 1 / 35- 45)