(Dari kitab al-Mu'taqad ash-Shahih
Karya asy Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah)
Termasuk di antara keyakinan Ahlis Sunnah, mereka menunggalkan Allah dalam ubudiyyah (penyembahan). Maka mereka tidak menyembah sembahan yang lain bersama Allah, bahkan mereka mengarahkan semua ketaatan yang Allah perintahkan –baik perintah wajib maupun yang sunnah- hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka mereka tidak sujud kecuali kepada Allah, tidak melakukan thawaf kecuali untuk Allah di rumah yang tua (Ka’bah), tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tidak bernadzar kecuali untuk Alah, tidak bersumpah kecuali dengan menggunakan nama Allah, tidak bertawakkal kecuali hanya kepada Allah dan tidak berdoa kecuali kepada Allah. Inilah yang dikenal dengan Tauhid Uluhiyah.
Allah berfirman,
ﭽ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﭼ
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatupun." (QS. an-Nisa`: 36)
Allah berfirman,
ﭽ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﭼ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia." (QS. al-Isra` : 23)
Allah berfirman,
ﭽ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬﯭ ﭼ
“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa." (QS. at-Taubah : 31)
Allah berfirman,
ﭽ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﭼ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya meyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. al-Bayyinah : 5)
Allah berfirman :
ﭽ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭼ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (QS. adz-Dzariyat : 56)
Makna “menyembah kepada-Ku” yaitu mentauhidkan Aku.
Lawan Dari Tauhid Adalah Kesyirikan Kepada Allah
Lawannya (tauhid) adalah kesyirikan kepada Allah –semoga Allah menjauhkan kita darinya-, dan kesyirikan tersebut adalah dosa maksiat kepada Allah yang terbesar. Allah berfirman,
ﭽ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﭼ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. an-Nisa` : 48)
Allah berfirman,
ﭽ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﭼ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (QS. an-Nisa`: 116)
Allah berfirman,
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭼ
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langait lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS. al-Hajj: 31)
Allah berfirman,
ﭽ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭼ
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran padanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)
Allah menjelaskan bahwa kesyirikan itu bisa menghapuskan seluruh amalan dan mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Allah berfirman,
ﭽ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﭼ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An’am: 88)
Allah berfirman,
ﭽ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﭼ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-Nabi yang sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65)
Di dalam Shahih Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah -radhiallahu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah bersabda,
مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat kesyirikan bersama-Nya sedikitpun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang menjumpaiNya dalam keadaan berbuat kesyirikan bersama-Nya dengan sesuatu apapun, maka ia akan masuk ke dalam neraka."
Di dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud -radhiallahu 'anhu- berkata, sesungguhnya Rasulullah bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan dia menyeru/beribadah kepada tandingan selain Allah maka akan masuk ke dalam Neraka."
Siapakah Orang Musyrik Itu?
Maka barangsiapa yang memalingkan satu bentuk di antara bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia adalah orang yang musyrik lagi kafir.
Doa tidak (Boleh) Diberikan Kecuali Hanya Kepada Allah
Doa merupakan ibadah yang Allah perintahkan. Barangsiapa yang berdoa hanya kepada Allah semata maka dia adalah muwahhid (orang yang bertauhid), dan barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.
Allah berfirman,
ﭽ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ ﭼ
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Yunus: 106)
Allah berfirman,
ﭽ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﭼ
“Dan barangsiapa menyembah sembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." (QS. al-Mu`minun: 117)
Allah berfirman,
ﭽ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﭼ
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kalian menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (mengerjakan ibadah) hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. Katakanlah sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya." (QS. al-Jin : 18-20)
Allah berfirman,
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭼ
“Hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." (QS. ar-Ra’ad: 14)
Allah berfirman,
ﭽ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﭼ
“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya dibangkitkan." (QS. an-Nahl : 20-21)
Allah berfirman,
ﭽ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭼ
“Maka janganlah kalian menyeru (menyembah) sembahan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kalian termasuk orang-orang yang di adzab." (QS. asy-Syu’ara`: 213)
Allah berfirman,
ﭽ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﭼ
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan bulan dan matahari, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui." (QS. Fathir: 13-14)
Allah berfirman,
ﭽ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣﯤ ﯥ ﯦ ﯧﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﭼ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”?, niscaya mereka menjawab : “Allah." Katakanlah : “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?, katakanlah : “Cukuplah Allah bagiku." kepadaNyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri." (QS. az-Zumar: 38)
Allah berfirman,
ﭽ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭼ
“Katakanlah terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, perlihatkan kepadaku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam penciptaan langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang orang dahulu) jika kalian adalah orang-orang yang benar." Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do`a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do`a mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. al-Ahqaf: 4-6)
Telah shahih dalam as-Sunan dari an-Nu’man bin Basyir -radhiallahu 'anhu- beliau berkata, bahwa Rasulullah bersabda,
اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah."
Permusuhan Antara Para Rasul dan Kaumnya Terjadi Karena Tauhid Ini
Para Rasul Diutus Karena Tauhid Ini
Tauhid inilah yang para Rasul diutus guna menjelaskannya dan berdakwah kepadanya. Kitab-kitab diturunkan untuk menegaskannya, menjelaskannya dan membelanya sebagaimana firman Allah ,
ﭽ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﭼ
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu." (QS. an-Nahl: 36)
Allah berfirman,
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭼ
“Dan kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: bahwasanya tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku” maka sembahlah olehmu selain aku." (QS. al-Anbiya`: 25)
Allah berfirman,
ﭽ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﭼ
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku"." (QS. an-Nahl: 2)
Para Rasul memulai dalam mengajak kaumnya kepada Allah dengan tauhid ini. Maka setiap Rasul berkata kepada kaumnya,
ﭽ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭼ
“Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sembahan bagimu selain-Nya." (QS. al-A’raf: 59)
Hal ini diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan setiap Rasul -shalawat Allah dan salamnya atas mereka seluruhnya-.
Allah berfirman,
ﭽ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﭼ
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata pada kaumnya : Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepadaNya. Hanya kepadaNyalah kalian akan dikembalikan." (QS. al-‘Ankabut: 16-17)
Allah berfirman tentang Nabi-Nya, Yusuf -'alaihis salam- (bahwa beliau berkata),
ﭽ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﭼ
“Hai kedua penghuni penjara manakah yang baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?. Kalian tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kalian dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 39-40)
Orang-Orang Musyrik tidak Mempunyai Sedikitpun Argumen dalam Kesyirikan Mereka
Orang-orang musyrik tidak mempunyai sedikitpun argumen dalam kesyirikan mereka, baik dari sisi akal sehat, maupun dalil naqli dari para Rasul.
Allah berfirman,
ﭽ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﭼ
“Dan tanyakanlah kepada Rasul-Rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu “adakah kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?." (QS. az-Zukhruf: 45)
Maknanya, Sesungguhnya tidaklah didapati seorangpun dari para Rasul yang mengajak untuk menyembah sesembahan (lain) bersama Allah, bahkan seluruhnya -dari (Rasul) yang pertama sampai yang terakhir- mengajak untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya.
Allah mengingatkan dalil aqli yang membatalkan kesyirikan orang-orang musyrik. Allah berfirman,
ﭽ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﭼ
“Katakanlah terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah; atau perlihatkan kepadaku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam penciptaan(Nya) langit?. Bawahlah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kalian orang-orang yang benar." (QS. al-Ahqaf: 4)
Ayat ini adalah argumentasi logis yang menetapkan bahwa segala sesuatu selain Allah, maka penyembahan kepadanya adalah (penyembahan) yang batil. Segala sesuatu tersebut (selain Allah itu) sama sekali tidak memiliki peran dalam menciptakan sesuatupun, akan tetapi hanya Allah semata yang bersendirian dengannya. Kalau begitu, kenapa sesembahan tersebut disembah?! Kemudian Allah meniadakan jika orang-orang musyrik (bahwa mereka) memiliki argumentasi syar'i -dalam perkara yang mereka lakukan berupa kesyirikan- dari kitab-kitab suci yang diturunkan atau dari para Rasul yang terutus. Maka nampak dengan jelas tidak adanya argumen bagi kaum musyrikin secara mutlak. Akhirnya,mereka menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka Jahannam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali.
Dari semua penjelasan yang telah berlalu, diketahuilah bahwa tauhid ini adalah kewajiban yang paling pertama dan perkara yang paling urgen. Dialah (agama) yang tak akan diterima oleh Allah dari seorangpun agama selainnya.
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Ahlus-Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Ahlus-Sunnah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Juli 2009
Penyimpangan dari Al-Aqidah Al-Islamiah
Ust. Abu Mu'awiyah
Referensi aqidah Islamiyah hanyalah terbatas pada apa yang dibawa oleh al-Kitab dan as-Sunnah. Karena tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui apa yang wajib untuk Allah dan apa yang harus disucikan dari-Nya kecuali Allah sendiri, dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui masalah itu setelah Allah kecuali Rasulullah .
Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah, apakah kalian yang lebih tahu ataukah Allah?!” dan juga Allah berfirman tentang Nabi-Nya :
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Oleh karena itulah, manhaj as-Salaf as-Saleh dari kalangan para sahabat dan yang mengikuti mereka adalah mengambil semua permasalahan aqidah dari kedua wahyu tersebut. Apa saja yang ditunjukkan oleh keduanya berupa hak Allah Ta'ala, maka mereka beriman dengannya, meyakininya dan mengamalkannya. Dan apa saja yang tidak ditunjukkan oleh keduanya maka mereka akan menolak hal tersebut dari Allah Ta'ala dan segera membuangnya jauh-jauh.
Karenanyalah tidak pernah didapati sedikit pun adanya perselisihan di antara mereka dalam masalah aqidah. Bahkan semua perkara aqidah yang keluar dari mulut-mulut mereka atau yang dinukil dari mereka, bagaikan keluar dari hati dan mulut yang sama, padahal zaman hidup mereka tidak sama dan tempat tinggal mereka juga berjauhan. Hal ini karena aqidah yang mereka yakini adalah aqidah yang turun dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sungguh Allah Ta’ala telah mewajibkan atas diri-Nya -karena rahmat dan hikmahNya- untuk menjaga aqidah ini dari berbagai macam susupan dari luar yang bisa mengotori kemurniannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa` : 82)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”. (QS. Al-Hijr : 9)
Maka apakah ada dalil yang lebih jelas menunjukkan akan kebenaran aqidah ini?! Imam Ismail bin Muhammad Al-Ashbahani berkata dalam kitab beliau Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah (2/239), "Dan termasuk perkara yang menunjukan bahwasanya ahlul hadits merekalah ahlul haq adalah sesungguhnya jika kamu menelaah seluruh kitab-kitab mereka yang terkarang, dari yang pertama sampai yang terakhir, yang terdahulu maupun yang belakangan, -bersamanaan dengan berbedanya negeri dan zaman hidup mereka, rumah-rumah mereka saling berjauhan dan setiap dari mereka menempati satu bagian dari bagian-bagian (bumi)- kamu pasti akan menemukan mereka dalam menjelaskan aqidah di atas cara dan metode yang sama, mereka berjalan di atas cara tersebut, tidak berpaling darinya dan tidak menyimpang di dalamnya. Ucapan mereka dalam hal tersebut sama, penukilan mereka sama, kamu tidak mendapati adanya perbedaan dan perselisihan di antara mereka pada satupun permasalahan walaupun sedikit. Bahkan seandainya kamu mengumpulkan seluruh yang keluar dari lisan-lisan mereka dan nukilan-nukilan mereka dari pendahulu mereka, maka kamu akan dapatkan seakan-akan (semua) hal tersebut datang dari satu hati, diucapkan oleh satu lisan. Maka apakah atas kebenaran itu ada dalil yang lebih jelas dari hal ini?”.
Demikianlah keadaan para ulama salaf dan yang mengikuti mereka dengan baik, mereka senantiasa sepakat dalam aqidah mereka dan dalam referensi aqidah mereka. Yang dengan hal itulah Allah Ta'ala mempersatukan kalimat mereka dan senantiasa memberikan taufik kepada mereka menuju aqidah yang benar, serta menyatukan manhaj dakwah mereka. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Akan tetapi, tatkala sebagian manusia ada yang membangun aqidah mereka di atas selain al-Kitab dan as-Sunnah, dari ilmu-ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang mereka warisi dari filsafat Yunani, maka lahirlah satu per satu penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah, yang mana hal itu akhirnya mengakibatkan pada pecahnya persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Wallahul Musta’an.
A. Akibat Jelek dari Aqidah yang Menyimpang.
Menyimpang dari aqidah yang benar adalah sebab terbesar dari kebinasaan dan kehancuran alam semesta. Allah Ta'ala berfirman:
ظهر الفسادُ في البرِّ والبحر بما كسبت أيدي الناس
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa maksiat -dan sebesar-besar maksiat adalah aqidah yang rusak- mempunyai banyak akibat jelek yang akan menimpa pelaku dan keluarganya, atau menimpa masyarakat dan umatnya, atau menimpa bumi, langit, lautan, hewan-hewan dan selainnya.
Allah Ta'ala juga berfirman:
لو يؤاخذ الله الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun.” (QS. Fathir: 45)
Ibnu Mas’ud berkata, “Yang Allah maksud adalah semua hewan yang melata.” Lihat Tafsir Al-Qurthubi (7/2/361)
Karenanyalah, kiamat -yang menjadi masa puncak dari munculnya semua bentuk kehancuran dan kebinasaan- tidak akan tegak sampai aqidah yang benar ini betul-betul telah sirna dari muka bumi ini. Nabi bersabda:
لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض الله الله
“Tidak akan tegak hari kiamat sampai di bumi tidak ada lagi yang mengatakan: Allah, Allah.” (HR. Muslim no. 148 dari Anas bin Malik)
Dan tidaklah Allah menyiksa sebuah kaum -yang tadinya beriman- kecuali karena rusaknya aqidah mereka. Allah Ta'ala berfirman:
وضرب الله مثلا قرية آمنة مطمئنة يأتيها رزقها رغدا من كل مكان فكفرت بأنعم الله فأذاقها الله لباس الجوع والخوف بما كانوا يصنعون
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Masyarakat yang tidak dibimbing oleh aqidah yang benar adalah kaum yang berakhlak binatang, yang telah kehilangan semua sarana dan prasarana yang bisa menunjang kelangsungan hidupnya, walaupun lahiriahnya mereka bergelimang dengan sarana dan prasarana kehidupan yang bersifat materi. Hal itu karena sarana dan prasarana yang bersifat materi ini butuh untuk dimanfaatkan dan diarahkan kepada hal yang bermanfaat. Sementara tidak ada satu pun perkara yang bisa mengarahkannya kepada hal yang bermanfaat kecuali aqidah yang benar. Karenanyalah Allah Ta'ala menggandengkan kedua perkara ini dalam perintahkan kepada para rasul:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mukminun: 51)
Maka kekuatan aqidah tidak boleh terlepas dari kekuatan materi. Kapan aqidah yang benar tidak mengiringi langkah kekuatan materi maka kekuatan materi tersebut hanya akan menjadi wasilah menuju penghancuran dan pengrusakan pribadi, masyarakat bahkan alam semesta, sebagaimana yang telah banyak disaksikan di zaman ini pada negeri-negeri kafir yang hanya menguasai kekuatan materi tapi tidak mempunyai aqidah yang benar.
Di antara akibat jelek dari aqidah yang rusak adalah terjadinya banyak goncangan dan gempa yang menghancurkan negeri-negeri, angin kencang lagi banjir bandang yang menenggelamkan para makhluk dan selainnya dari bencana-bencana besar, sebagai hukuman dari Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:
فكلا أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصبا ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا بهم الأرض ومنهم من أغرقنا
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-Ankabut: 40)
B. Sebab-Sebab Penyimpangan dari Al-Aqidah Al-Islamiah.
1. Mengambil aqidah dari rujukan yang tidak benar, sebagaimana yang telah berlalu di awal pembahasan. Dan cukuplah menjadi dalil akan rusaknya semua referensi aqidah selain al-Kitab dan as-Sunnah adalah: Bahwa barangsiapa yang hanya mengambil aqidahnya dari al-Kitab dan meninggalkan as-Sunnah, maupun sebaliknya, maka Rasulullah telah menjanjikan baginya kesesatan. Beliau bersabda:
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي
”Sesungguhnya saya telah tinggalkan untuk kalian suatu perkara (jika kalian berpegang teguh dengannya), niscaya kalian tidak akan sesat selamanya; yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”. (HR. Al-Hakim no. 319, Al-Baihaqi (10/114), dan Ad-Daraquthni no. 149 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 186)
2.Jahil terhadap aqidah yang benar. Hal ini dikarenakan mereka tidak mempelajarinya dan tidak pula mengajarkannya atau karena minimnya perhatian dan minat mereka untuk mempelajari dan menyebarkannya. Ini mengakibatkan lahirnya satu generasi atau lebih yang tidak mengetahui aqidah yang benar tersebut dan juga tidak mengetahui apa saja yang bertentangan dan bisa membatalkannnya. Sehingga mereka pun akan meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Al-Khaththab :
إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة, إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية
“Tali agama islam tidaklah terlepas seutas demi seutas, kecuali ketika lahir di dalam islam, orang yang tidak mengetahui (aqidah dan amalan) jahiliah. ”
Ambillah pelajaran dari kisah terjadinya kesyirikan pertama kali di muka bumi ini, yaitu pada kaum Nuh. Dimana pada awalnya mereka membuat patung-patung guru-guru hanya sebagai penyemangat bagi mereka dalam ibadah dan untuk mengenang guru-guru mereka. Maka perhatikanlah, bagaimana bisa beberapa generasi kemudian bisa menyembah patung tersebut? Hal itu tidak lain karena ada sebuah generasi di antara mereka yang tidak mengenal aqidah yang benar, yang pada generasi inilah setan masuk membisikkan kesyirikan penyembahan kepada patung-patung tersebut, lalu mereka mewariskannya kepada anak cucu mereka .
3.Fanatik kepada apa yang telah dianut dan diamalkan turun-temurun oleh nenek moyang mereka, walaupun itu adalah suatu kebatilan. Allah Ta'ala berfirman tentang kaum musyrikin:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 170)
Bahkan ini merupakan ciri khas dari setiap kaum yang rusak aqidahnya, yang karenanya Allah menyiksa mereka. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az-Zukhruf: 23-25)
4.Taklid buta dalam permasalahan aqidah, dimana dia mengambil pendapat-pendapat manusia dalam aqidah tanpa melihat landasan dalilnya dan tanpa mencari tahu sejauh mana kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi di zaman ini, dimana sebagian kaum muslimin ada yang ‘ikut-ikutan’ mempercayai teori Darwin yang jelas-jelas menolak adanya pencipta. Dan banyak di antara mereka yang mengikuti aqidah-aqidah Jahmiah, Muktazilah, Asy’ariah, Shufiah dan selain mereka, yang semua aqidah mereka dibangun di atas ilmu kalam, manthiq, filsafat, mimpi-mimpi, dan ucapan-ucapan manusia yang tidak ma’shum.
5.Ghuluw (berlebihan dalam mengkultuskan) para wali dan orang-orang saleh. Tatkala mereka diyakini bisa mendatangkan manfaat, bisa menolak bahaya dan segala sesuatu yang tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah. Karenanya mereka dijadikan sebagai perantara antara hamba dengan Allah dalam berdoa, bertawassul dan meminta syafaat. Sebagaimana yang disaksikan pada para pengagung kubur di zaman ini.
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Nabi mereka telah mengancam di akhir hidup beliau:
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid”. (HR. Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 529, 531 dari Aisyah -radhiyallahu anha- dan semisal dengannya hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari no. 426 dan Muslim no. 530)
Dan tidakkah mereka sadar, bahwa perbuatan inilah yang akan menyebabkan mereka dibinasakan oleh Allah Ta'ala. Nabi bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
“Waspada kalian dari ghuluw (bersikap berlebihan) dalam beragama karena tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian kecuali karena ghuluw dalam beragama”. (HR. An-Nasa`i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029 dari Ibnu Abbas dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1283)
6.Lalai dari mentadabburi ayat-ayat Allah yang kauni dan ayat-ayat Allah yang sam’i/terdengar (al-Kitab dan as-Sunnah), hingga mereka mengira bahwa apa yang telah mereka hasilkan, murni merupakan hasil perbuatan dan kerja keras manusia. Hal itu lalu membuat mereka mengagungkan manusia dan menyandarkan semua nikmat yang mereka peroleh kepada usaha dan perbuatan mereka semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qarun,
“Saya tidaklah diberikan semua harta ini kecuali karena ilmu saya.” (QS. Al-Qashash: 78)
Padahal, seandainya mereka mau berfikir dan mentadabburi kehebatan dan keagungan ayat-ayat Allah, niscaya mereka akan meyakini bahwa hanya Allah yang memunculkan semua yang ada, Dia menciptakan manfaat yang berbeda-beda pada setiap benda, Dial pulalah yang menghidupkan manusia lalu menganugerahinya dengan kemampuan untuk mengeluarkan manfaat dari benda-benda tersebut.
Allah Ta'ala berfirman, “Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaffat: 96)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 32-34)
7.Kosongnya rumah dari pendidikan yang islami, padahal rumah merupakan sekolah pertama bagi setiap anak dalam mempelajari aqidah yang benar. Apalagi Nabi telah bersabda:
“Setiap anak yang dilahirkan, dilahirkan di atas fitrah (islam). Kedua ibu bapaknyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1292,1293,1319,4497 dan Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah)
Maka kedua orang tua mempunyai peran yang besar dalam mengarahkan dan menuntun anaknya untuk mengenal dan mengamalkan aqidah yang benar. Dan kerusakan aqidah pertama kali merusak fitrah seorang anak melalui pendidikan kedua orang tuanya, kalau keduanya adalah orang yang lebih dahulu menyimpang dari kebenaran.
8.Rusaknya berbagai media informasi, baik media cetak maupun elektronik dengan semua bentuknya, dimana mereka turut berperan dalam menyebarkan berbagai kejelekan dan aqidah yang rusak di tengah-tengah kaum muslimin. Di TV dipertontonkan acara-acara yang kesyirikan dengan semua bentuknya, di radio diperdengarkan doa-doa kepada selain Allah dan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, di koran dan semacamnya terdapat pengumuman dan ajakan untuk mendatangi penyihiri dan dukun, bahkan kesyirikan itu bisa masuk ke setiap orang yang menggunakan HP, berupa kiriman sms yang berisi ramalan nasib dan sebagainya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
C. Solusi Dari Penyimpangan Aqidah
1.Kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dalam menimba aqidah yang benar dari keduanya, sebagaimana para ulama salaf mengambil aqidah mereka dari keduanya. Karena tidak akan membaik nasib umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan awal umat ini menjadi umat yang terbaik.
Di samping itu, kita juga harus mengetahui akidah-akidah dari setiap sekte yang menyimpang, serta mengetahui syubhat-syubhat mereka agar semuanya bisa dipatahkan dan umat bisa diperingatkan dari kesesatan mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
عَـــــرَفْتُ الشَّــــــرَّ لاَ لـِلشـــَّــ رِّ وَلَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْخَيْرَ مِنَ الشّـ َ رِّ وَقَـــعَ فِيْـــهِ
“Saya mengetahui kejelekan bukan untuk kejelekan akan tetapi untuk menghindar darinya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui kebaikan dari kejelekan maka dia akan terjatuh ke dalamnya (kejelekan tersebut)”.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan dalam firmannya :
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur'an) dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa”. (QS. Al-An’am : 55)
As-Sa’di -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya, ““Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur'an)” Yakni kami menjelaskan, menerangkan dan membedakan antara jalan hidayah dan kesesatan dan (antara jalan) penyelewengan dan petunjuk. Agar orang-orang yang diberi hidayah bisa mendapatkan hidayah dengannya dan agar semakin nampak kebenaran yang harus untuk diikuti. “Dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa” yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah dan siksaan-Nya. Karena, kalau jalannya orang-orang yang mujrim telah nampak dan jelas, maka akan mudah untuk menghindar dan menjauh darinya. Berbeda kalau jalan mereka masih kabur dan kurang jelas, karena kalau demikian keadaannya maka maksud yang mulia ini (menjauh darinya dan agar jelas jalannya orang-orang yang sholeh) tidak bisa terwujud”.
2.Mempunyai perhatian dan minat yang besar dalam mempelajari dan mengajarkan aqidah yang benar pada setiap tingkatan pendidikan. Memberikan porsi yang cukup dalam pengajarannya dan memperketat ujian dalam hal ini guna memantapkan hasil aqidah tersebut pada setiap orang yang mempelajarinya.
3.Hanya mengajarkan kitab-kitab aqidah salaf ahlussunnah wal jamaah, dan menjauhi kitab-kitab yang ditulis oleh mereka yang terpengaruh oleh aqidah sekte-sekte yang menyimpang, seperti Shufiah, Muktazilah, Asy’ariyah dan selainnya.
4.Tegaknya setiap dai untuk memperingatkan, memperbaiki dan meluruskan semua bentuk aqidah rusak yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, serta membantah semua kesesatan orang-orang yang menyimpang. Hal itu karena di antara faktor yang membantu tersebarnya aqidah yang rusak adalah di satu sisi tatkala banyaknya orang jahil atau sesat yang berbicara dan mengajarkan aqidah yang menyimpang, di sisi lain orang yang mengetahui aqidah yang benar tidak mau menyebarkan dan diam terhadap berbagai aqidah rusak yang dia temui. Sehingga yang bodoh tidak akan pernah mengetahui kebenaran dan yang sesat semakin merajalela dengan kesesatannya.
Wallahu Ta'ala A’la wa A’lam. Washallallahu ala Nabiyyina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi wasallam.
[Rujukan utama: Aqidah At-Tauhid hal. 11-18 karya Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan -hafizhahullah-]
Referensi aqidah Islamiyah hanyalah terbatas pada apa yang dibawa oleh al-Kitab dan as-Sunnah. Karena tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui apa yang wajib untuk Allah dan apa yang harus disucikan dari-Nya kecuali Allah sendiri, dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui masalah itu setelah Allah kecuali Rasulullah .
Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah, apakah kalian yang lebih tahu ataukah Allah?!” dan juga Allah berfirman tentang Nabi-Nya :
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Oleh karena itulah, manhaj as-Salaf as-Saleh dari kalangan para sahabat dan yang mengikuti mereka adalah mengambil semua permasalahan aqidah dari kedua wahyu tersebut. Apa saja yang ditunjukkan oleh keduanya berupa hak Allah Ta'ala, maka mereka beriman dengannya, meyakininya dan mengamalkannya. Dan apa saja yang tidak ditunjukkan oleh keduanya maka mereka akan menolak hal tersebut dari Allah Ta'ala dan segera membuangnya jauh-jauh.
Karenanyalah tidak pernah didapati sedikit pun adanya perselisihan di antara mereka dalam masalah aqidah. Bahkan semua perkara aqidah yang keluar dari mulut-mulut mereka atau yang dinukil dari mereka, bagaikan keluar dari hati dan mulut yang sama, padahal zaman hidup mereka tidak sama dan tempat tinggal mereka juga berjauhan. Hal ini karena aqidah yang mereka yakini adalah aqidah yang turun dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sungguh Allah Ta’ala telah mewajibkan atas diri-Nya -karena rahmat dan hikmahNya- untuk menjaga aqidah ini dari berbagai macam susupan dari luar yang bisa mengotori kemurniannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa` : 82)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”. (QS. Al-Hijr : 9)
Maka apakah ada dalil yang lebih jelas menunjukkan akan kebenaran aqidah ini?! Imam Ismail bin Muhammad Al-Ashbahani berkata dalam kitab beliau Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah (2/239), "Dan termasuk perkara yang menunjukan bahwasanya ahlul hadits merekalah ahlul haq adalah sesungguhnya jika kamu menelaah seluruh kitab-kitab mereka yang terkarang, dari yang pertama sampai yang terakhir, yang terdahulu maupun yang belakangan, -bersamanaan dengan berbedanya negeri dan zaman hidup mereka, rumah-rumah mereka saling berjauhan dan setiap dari mereka menempati satu bagian dari bagian-bagian (bumi)- kamu pasti akan menemukan mereka dalam menjelaskan aqidah di atas cara dan metode yang sama, mereka berjalan di atas cara tersebut, tidak berpaling darinya dan tidak menyimpang di dalamnya. Ucapan mereka dalam hal tersebut sama, penukilan mereka sama, kamu tidak mendapati adanya perbedaan dan perselisihan di antara mereka pada satupun permasalahan walaupun sedikit. Bahkan seandainya kamu mengumpulkan seluruh yang keluar dari lisan-lisan mereka dan nukilan-nukilan mereka dari pendahulu mereka, maka kamu akan dapatkan seakan-akan (semua) hal tersebut datang dari satu hati, diucapkan oleh satu lisan. Maka apakah atas kebenaran itu ada dalil yang lebih jelas dari hal ini?”.
Demikianlah keadaan para ulama salaf dan yang mengikuti mereka dengan baik, mereka senantiasa sepakat dalam aqidah mereka dan dalam referensi aqidah mereka. Yang dengan hal itulah Allah Ta'ala mempersatukan kalimat mereka dan senantiasa memberikan taufik kepada mereka menuju aqidah yang benar, serta menyatukan manhaj dakwah mereka. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Akan tetapi, tatkala sebagian manusia ada yang membangun aqidah mereka di atas selain al-Kitab dan as-Sunnah, dari ilmu-ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang mereka warisi dari filsafat Yunani, maka lahirlah satu per satu penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah, yang mana hal itu akhirnya mengakibatkan pada pecahnya persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Wallahul Musta’an.
A. Akibat Jelek dari Aqidah yang Menyimpang.
Menyimpang dari aqidah yang benar adalah sebab terbesar dari kebinasaan dan kehancuran alam semesta. Allah Ta'ala berfirman:
ظهر الفسادُ في البرِّ والبحر بما كسبت أيدي الناس
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa maksiat -dan sebesar-besar maksiat adalah aqidah yang rusak- mempunyai banyak akibat jelek yang akan menimpa pelaku dan keluarganya, atau menimpa masyarakat dan umatnya, atau menimpa bumi, langit, lautan, hewan-hewan dan selainnya.
Allah Ta'ala juga berfirman:
لو يؤاخذ الله الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun.” (QS. Fathir: 45)
Ibnu Mas’ud berkata, “Yang Allah maksud adalah semua hewan yang melata.” Lihat Tafsir Al-Qurthubi (7/2/361)
Karenanyalah, kiamat -yang menjadi masa puncak dari munculnya semua bentuk kehancuran dan kebinasaan- tidak akan tegak sampai aqidah yang benar ini betul-betul telah sirna dari muka bumi ini. Nabi bersabda:
لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض الله الله
“Tidak akan tegak hari kiamat sampai di bumi tidak ada lagi yang mengatakan: Allah, Allah.” (HR. Muslim no. 148 dari Anas bin Malik)
Dan tidaklah Allah menyiksa sebuah kaum -yang tadinya beriman- kecuali karena rusaknya aqidah mereka. Allah Ta'ala berfirman:
وضرب الله مثلا قرية آمنة مطمئنة يأتيها رزقها رغدا من كل مكان فكفرت بأنعم الله فأذاقها الله لباس الجوع والخوف بما كانوا يصنعون
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Masyarakat yang tidak dibimbing oleh aqidah yang benar adalah kaum yang berakhlak binatang, yang telah kehilangan semua sarana dan prasarana yang bisa menunjang kelangsungan hidupnya, walaupun lahiriahnya mereka bergelimang dengan sarana dan prasarana kehidupan yang bersifat materi. Hal itu karena sarana dan prasarana yang bersifat materi ini butuh untuk dimanfaatkan dan diarahkan kepada hal yang bermanfaat. Sementara tidak ada satu pun perkara yang bisa mengarahkannya kepada hal yang bermanfaat kecuali aqidah yang benar. Karenanyalah Allah Ta'ala menggandengkan kedua perkara ini dalam perintahkan kepada para rasul:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mukminun: 51)
Maka kekuatan aqidah tidak boleh terlepas dari kekuatan materi. Kapan aqidah yang benar tidak mengiringi langkah kekuatan materi maka kekuatan materi tersebut hanya akan menjadi wasilah menuju penghancuran dan pengrusakan pribadi, masyarakat bahkan alam semesta, sebagaimana yang telah banyak disaksikan di zaman ini pada negeri-negeri kafir yang hanya menguasai kekuatan materi tapi tidak mempunyai aqidah yang benar.
Di antara akibat jelek dari aqidah yang rusak adalah terjadinya banyak goncangan dan gempa yang menghancurkan negeri-negeri, angin kencang lagi banjir bandang yang menenggelamkan para makhluk dan selainnya dari bencana-bencana besar, sebagai hukuman dari Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:
فكلا أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصبا ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا بهم الأرض ومنهم من أغرقنا
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-Ankabut: 40)
B. Sebab-Sebab Penyimpangan dari Al-Aqidah Al-Islamiah.
1. Mengambil aqidah dari rujukan yang tidak benar, sebagaimana yang telah berlalu di awal pembahasan. Dan cukuplah menjadi dalil akan rusaknya semua referensi aqidah selain al-Kitab dan as-Sunnah adalah: Bahwa barangsiapa yang hanya mengambil aqidahnya dari al-Kitab dan meninggalkan as-Sunnah, maupun sebaliknya, maka Rasulullah telah menjanjikan baginya kesesatan. Beliau bersabda:
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي
”Sesungguhnya saya telah tinggalkan untuk kalian suatu perkara (jika kalian berpegang teguh dengannya), niscaya kalian tidak akan sesat selamanya; yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”. (HR. Al-Hakim no. 319, Al-Baihaqi (10/114), dan Ad-Daraquthni no. 149 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 186)
2.Jahil terhadap aqidah yang benar. Hal ini dikarenakan mereka tidak mempelajarinya dan tidak pula mengajarkannya atau karena minimnya perhatian dan minat mereka untuk mempelajari dan menyebarkannya. Ini mengakibatkan lahirnya satu generasi atau lebih yang tidak mengetahui aqidah yang benar tersebut dan juga tidak mengetahui apa saja yang bertentangan dan bisa membatalkannnya. Sehingga mereka pun akan meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Al-Khaththab :
إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة, إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية
“Tali agama islam tidaklah terlepas seutas demi seutas, kecuali ketika lahir di dalam islam, orang yang tidak mengetahui (aqidah dan amalan) jahiliah. ”
Ambillah pelajaran dari kisah terjadinya kesyirikan pertama kali di muka bumi ini, yaitu pada kaum Nuh. Dimana pada awalnya mereka membuat patung-patung guru-guru hanya sebagai penyemangat bagi mereka dalam ibadah dan untuk mengenang guru-guru mereka. Maka perhatikanlah, bagaimana bisa beberapa generasi kemudian bisa menyembah patung tersebut? Hal itu tidak lain karena ada sebuah generasi di antara mereka yang tidak mengenal aqidah yang benar, yang pada generasi inilah setan masuk membisikkan kesyirikan penyembahan kepada patung-patung tersebut, lalu mereka mewariskannya kepada anak cucu mereka .
3.Fanatik kepada apa yang telah dianut dan diamalkan turun-temurun oleh nenek moyang mereka, walaupun itu adalah suatu kebatilan. Allah Ta'ala berfirman tentang kaum musyrikin:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 170)
Bahkan ini merupakan ciri khas dari setiap kaum yang rusak aqidahnya, yang karenanya Allah menyiksa mereka. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az-Zukhruf: 23-25)
4.Taklid buta dalam permasalahan aqidah, dimana dia mengambil pendapat-pendapat manusia dalam aqidah tanpa melihat landasan dalilnya dan tanpa mencari tahu sejauh mana kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi di zaman ini, dimana sebagian kaum muslimin ada yang ‘ikut-ikutan’ mempercayai teori Darwin yang jelas-jelas menolak adanya pencipta. Dan banyak di antara mereka yang mengikuti aqidah-aqidah Jahmiah, Muktazilah, Asy’ariah, Shufiah dan selain mereka, yang semua aqidah mereka dibangun di atas ilmu kalam, manthiq, filsafat, mimpi-mimpi, dan ucapan-ucapan manusia yang tidak ma’shum.
5.Ghuluw (berlebihan dalam mengkultuskan) para wali dan orang-orang saleh. Tatkala mereka diyakini bisa mendatangkan manfaat, bisa menolak bahaya dan segala sesuatu yang tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah. Karenanya mereka dijadikan sebagai perantara antara hamba dengan Allah dalam berdoa, bertawassul dan meminta syafaat. Sebagaimana yang disaksikan pada para pengagung kubur di zaman ini.
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Nabi mereka telah mengancam di akhir hidup beliau:
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid”. (HR. Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 529, 531 dari Aisyah -radhiyallahu anha- dan semisal dengannya hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari no. 426 dan Muslim no. 530)
Dan tidakkah mereka sadar, bahwa perbuatan inilah yang akan menyebabkan mereka dibinasakan oleh Allah Ta'ala. Nabi bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
“Waspada kalian dari ghuluw (bersikap berlebihan) dalam beragama karena tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian kecuali karena ghuluw dalam beragama”. (HR. An-Nasa`i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029 dari Ibnu Abbas dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1283)
6.Lalai dari mentadabburi ayat-ayat Allah yang kauni dan ayat-ayat Allah yang sam’i/terdengar (al-Kitab dan as-Sunnah), hingga mereka mengira bahwa apa yang telah mereka hasilkan, murni merupakan hasil perbuatan dan kerja keras manusia. Hal itu lalu membuat mereka mengagungkan manusia dan menyandarkan semua nikmat yang mereka peroleh kepada usaha dan perbuatan mereka semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qarun,
“Saya tidaklah diberikan semua harta ini kecuali karena ilmu saya.” (QS. Al-Qashash: 78)
Padahal, seandainya mereka mau berfikir dan mentadabburi kehebatan dan keagungan ayat-ayat Allah, niscaya mereka akan meyakini bahwa hanya Allah yang memunculkan semua yang ada, Dia menciptakan manfaat yang berbeda-beda pada setiap benda, Dial pulalah yang menghidupkan manusia lalu menganugerahinya dengan kemampuan untuk mengeluarkan manfaat dari benda-benda tersebut.
Allah Ta'ala berfirman, “Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaffat: 96)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 32-34)
7.Kosongnya rumah dari pendidikan yang islami, padahal rumah merupakan sekolah pertama bagi setiap anak dalam mempelajari aqidah yang benar. Apalagi Nabi telah bersabda:
“Setiap anak yang dilahirkan, dilahirkan di atas fitrah (islam). Kedua ibu bapaknyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1292,1293,1319,4497 dan Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah)
Maka kedua orang tua mempunyai peran yang besar dalam mengarahkan dan menuntun anaknya untuk mengenal dan mengamalkan aqidah yang benar. Dan kerusakan aqidah pertama kali merusak fitrah seorang anak melalui pendidikan kedua orang tuanya, kalau keduanya adalah orang yang lebih dahulu menyimpang dari kebenaran.
8.Rusaknya berbagai media informasi, baik media cetak maupun elektronik dengan semua bentuknya, dimana mereka turut berperan dalam menyebarkan berbagai kejelekan dan aqidah yang rusak di tengah-tengah kaum muslimin. Di TV dipertontonkan acara-acara yang kesyirikan dengan semua bentuknya, di radio diperdengarkan doa-doa kepada selain Allah dan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, di koran dan semacamnya terdapat pengumuman dan ajakan untuk mendatangi penyihiri dan dukun, bahkan kesyirikan itu bisa masuk ke setiap orang yang menggunakan HP, berupa kiriman sms yang berisi ramalan nasib dan sebagainya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
C. Solusi Dari Penyimpangan Aqidah
1.Kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dalam menimba aqidah yang benar dari keduanya, sebagaimana para ulama salaf mengambil aqidah mereka dari keduanya. Karena tidak akan membaik nasib umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan awal umat ini menjadi umat yang terbaik.
Di samping itu, kita juga harus mengetahui akidah-akidah dari setiap sekte yang menyimpang, serta mengetahui syubhat-syubhat mereka agar semuanya bisa dipatahkan dan umat bisa diperingatkan dari kesesatan mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
عَـــــرَفْتُ الشَّــــــرَّ لاَ لـِلشـــَّــ رِّ وَلَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْخَيْرَ مِنَ الشّـ َ رِّ وَقَـــعَ فِيْـــهِ
“Saya mengetahui kejelekan bukan untuk kejelekan akan tetapi untuk menghindar darinya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui kebaikan dari kejelekan maka dia akan terjatuh ke dalamnya (kejelekan tersebut)”.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan dalam firmannya :
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur'an) dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa”. (QS. Al-An’am : 55)
As-Sa’di -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya, ““Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur'an)” Yakni kami menjelaskan, menerangkan dan membedakan antara jalan hidayah dan kesesatan dan (antara jalan) penyelewengan dan petunjuk. Agar orang-orang yang diberi hidayah bisa mendapatkan hidayah dengannya dan agar semakin nampak kebenaran yang harus untuk diikuti. “Dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa” yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah dan siksaan-Nya. Karena, kalau jalannya orang-orang yang mujrim telah nampak dan jelas, maka akan mudah untuk menghindar dan menjauh darinya. Berbeda kalau jalan mereka masih kabur dan kurang jelas, karena kalau demikian keadaannya maka maksud yang mulia ini (menjauh darinya dan agar jelas jalannya orang-orang yang sholeh) tidak bisa terwujud”.
2.Mempunyai perhatian dan minat yang besar dalam mempelajari dan mengajarkan aqidah yang benar pada setiap tingkatan pendidikan. Memberikan porsi yang cukup dalam pengajarannya dan memperketat ujian dalam hal ini guna memantapkan hasil aqidah tersebut pada setiap orang yang mempelajarinya.
3.Hanya mengajarkan kitab-kitab aqidah salaf ahlussunnah wal jamaah, dan menjauhi kitab-kitab yang ditulis oleh mereka yang terpengaruh oleh aqidah sekte-sekte yang menyimpang, seperti Shufiah, Muktazilah, Asy’ariyah dan selainnya.
4.Tegaknya setiap dai untuk memperingatkan, memperbaiki dan meluruskan semua bentuk aqidah rusak yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, serta membantah semua kesesatan orang-orang yang menyimpang. Hal itu karena di antara faktor yang membantu tersebarnya aqidah yang rusak adalah di satu sisi tatkala banyaknya orang jahil atau sesat yang berbicara dan mengajarkan aqidah yang menyimpang, di sisi lain orang yang mengetahui aqidah yang benar tidak mau menyebarkan dan diam terhadap berbagai aqidah rusak yang dia temui. Sehingga yang bodoh tidak akan pernah mengetahui kebenaran dan yang sesat semakin merajalela dengan kesesatannya.
Wallahu Ta'ala A’la wa A’lam. Washallallahu ala Nabiyyina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi wasallam.
[Rujukan utama: Aqidah At-Tauhid hal. 11-18 karya Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan -hafizhahullah-]
Rabu, 01 Juli 2009
Meluruskan Pemahaman Keliru Tentang Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab
Oleh: Syaikh Shalih bin Abdul Aziz As Sindi
Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendukung dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.
Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syaikh yang melontarkan kepada beliau dengan bebagai tuduhan, bahwa perkataan mereka tak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduhkan tidak mempunyai bukti dari perkataan Syaikh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekedar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.
Saya yakin tak ada seorangpun yang berfikir objektif kecuali dia mengakui bahwa cara terbaik untuk mengetahui fakta yang sebenarnya adalah dengan melihat kepada yang bersangkutan, kemudian mengambil informasi langsung dari apa yang telah disampaikannya.
Kitab-kitab Syaikh dapat kita temui, perkataan-perkataannya pun juga masih terjaga. Dengan mengacu kepada itu semua akan terbukti apakah isu-isu tersebut benar atau salah. Adapun tuduhan-tuduhan yang tidak disertai dengan bukti hanyalah fatamorgana yang tak ada kenyataanya.
Dalam lembaran-lembaran ini, berisi catatan-catatan ringan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan amanah dinukil dari kitab-kitabnya yang valid. Saya telah mengumpulkannya dan yang dapat saya lakukan hanyalah sekedar menyusun.
Catatan berisi jawaban-jawaban langsung dari Syaikh terhadap tuduhan-tuduhan kepada beliau yang dilancarkan oleh para penentangnya. Dengan jelas ditepisnya segala apa yang dituduhkan. Saya yakin –dengan taufiq dari Allah .- hal itu cukup untuk menjelaskan kebenaran bagi siapa yang benar-benar mencarinya.
Adapun yang membangkang terhadap Syaikh dan dakwahnya, senang menyebarkan kedustaaan dan kebohongan, perlu saya katakan kepada mereka : kasihanilah dirimu sesungguhnya kebenaran akan jelas, agama Allah akan menang dan matahari yang bersinar terang tak akan bisa ditutupi dengan telapak tangan.
Inilah perkataan Syaikh menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, kalau Anda mendapatkan perkataan Syaikh yang mendustakannya maka tampakkan dan datangkanlah jangan Anda sembunyikan…..! Namun kalau tidak –dan Anda tidak akan mendapatkannya- maka saya menasehati Anda dengan satu hal : hendaklah Anda menghadapkan diri kepada Allah dengan menanggalkan segala hawa nafsu dan fanatisme, meminta kepada-Nya untuk memperlihatkan al haq dan membimbingmu kepadanya, kemudian Anda fikirkan apa yang telah dikatakan oleh orang ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), apakah dia membawa sesuatu yang bukan dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Lalu fikirkan sekali lagi: apakah ada jalan keselamatan selain perkataan yang benar dan membenarkan al haq. Bila telah tampak bagi Anda kebenaran maka kembalilah kepada akal sehat, menujulah kepada al haq, sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada terus menerus berada dalam kebatilan, hanya kepada Allah saja segala perkara dikembalikan.
HAKEKAT DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Sebagai permulaan pembahasan kita akan lebih baik kalau kita menukil beberapa perkataan ringkas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam menjelaskan apa yang beliau dakwahkan, jauh dari awan gelap propaganda yang dilancarkan para penentangnya yang mereka menghalangi kebanyakan manusia agar jauh dari dakwah tersebut. Beliau mengatakan :
"Aku katakan –hanya bagi Allah segala puji dan karunia dan dengan Allah segala kekuatan- : sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkanku ke jalan yang lurus, agama lurus agama Ibrahim yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik. Dan aku –Alhamdulillah-, tidak mengajak kepada madzhab salah seorang sufi, ahli fikih, filosof, atau salah satu imam-imam yang aku muliakan…..
Aku hanya mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku mengajak kepada sunnah Rasulullah . yang beliau menasehatkan ummatnya dari yang awal sampai yang akhir untuk selalu mengikutinya. Aku berharap semoga aku tidak menolak segala kebenaran bila telah sampai kepadaku, bahkan aku persaksikan kepada Allah, para malaikat dan semua makhluk-Nya, siapapun diantara kalian yang menyampaikan kebenaran kepadaku, pasti akan aku terima dengan sepenuh hati, dan aku akan memukulkan ke tembok setiap perkataan para imamku yang bertentangan dengan kebenaran, kecuali Rasulullah . karena beliau tidak mengatakan kecuali kebenaran". (Ad Durarus Saniyyah: jilid 1, hal: 37,38).
"Dan aku –segala puji hanya milik Allah-, hanyalah mengikuti, bukan mengada-ada". (Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 36).
"Gambaran mengenai permasalahan yang sebenarnya adalah aku katakan : tidak ada yang boleh didoai kecuali Allah saja tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya): "maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun bersamaan dengan Allah" (Q.S. Al Jin : 18).
Allah juga berfirman berkaitan dengan hak Nabi-Nya (yang artinya): Katakanlah : "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan-pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan" (Q.S. Al Jin : 21)
Demikianlah firman Allah dan apa yang disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah kepada kita, ….. inilah antaraku denganmu, kalau ada yang menyebutkan tentangku di luar daripada itu, maka itu adalah dusta dan kebohongan". (Ad Durarus Saniyyah : 1/90-91).
Masalah Pertama : I’TIQAD BELIAU TENTANG NABI
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab difitnah para musuhnya dengan berbagai tuduhan keji berkaitan dengan i’tiqadnya terhadap Nabi, tuduhan itu berupa :
Pertama : beliau tidak menyakini bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam adalah nabi penutup.
Dikatakan demikian, padahal semua kitab-kitab beliau penuh berisi tentang bantahan terhadap syubhat itu. Berikut ini menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut, diantaranya dalam perkataan beliau :
"Aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad . adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba pun sampai dia beriman dengan diutusnya beliau serta bersaksi akan kenabiannya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
"Makhluk paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah yang paling tinggi dalam mengikuti dan mencocoki beliau (Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam) dalam ilmu dan amalannya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:32)
Kedua : Dia telah menghancurkan hak Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak meletakkan beliau pada kedudukannya yang pantas.
Untuk melihat hakikat beliau sebagai tertuduh, saya nukilkan sebagian perkataan yang telah beliau tegaskan berkaitan dengan apa yang diyakini tentang hak Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau berkata:
"Tatkala Allah berkehendak menampakkan tauhid dan kesempurnaan agama-Nya, agar kalimat-Nya adalah tinggi dan seruan orang-orang kafir adalah rendah, Allah mengutus Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penutup para nabi dan kekasih Tuhan semesta alam. Beliau terus menerus dikenal dalam setiap generasi, bahkan dalam Taurat dan Injil telah disebutkan, sampai akhirnya Allah mengeluarkan mutiara itu, antara Bani Kinanah dengan Bani Zuhrah. Maka Allah mengutusnya pada saat terhentinya pengutusan para rasul, lalu menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Beliau mempunyai tanda-tanda dan petunjuk tentang kebenaran kenabian sebelum diangkat menjadi nabi, yang tanda-tanda tersebut tidak terkalahkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Allah membesarkan beliau dengan baik, mempunyai kehormatan tertinggi pada kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling mulia, paling lembut dan paling benar dalam berucap, akhirnya kaumnya memberikan julukan dengan Al Amin, karena Allah telah menciptakan pada beliau keadaan-keadaan bagus dan budi pekerti yang diridhai-Nya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 90-91).
"Dan beliau adalah pemimpin para pemberi syafa’at, pemilik Al Maqamul Mahmud (kedudukan hamba yang paling mulia di hari kiamat), sedang Nabi Adam . dan orang-orang sesudahnya akan berada di bawah panjinya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 86).
"Utusan yang pertama adalah Nabi Nuh Alaihis Salam dan yang paling akhir serta paling mulia adalah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:143)
"Beliau telah menyampaikan penjelasan dengan cara terbaik dan paling sempurna, manusia yang paling menginginkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah, belas kasih terhadap orang-orang yang beriman, telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan terus menerus menyembah Allah sampai beliau wafat. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:21).
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga mengambil kesimpulan dari sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya): Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan semua manusia. Beliau mengatakan : "Kewajiban mencintai Rasulullah . melebihi cinta terhadap diri sendiri, keluarga maupun harta". (Kitabut Tauhid, hal : 108).
Ketiga : mengingkari syafaat Rasululullah Sholallahu Alaihi Wasallam.
Syaikh berkenan menjawab syubhat ini, beliau mengatakan : "Mereka menyangka bahwa kami mengingkari syafaat Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Maha suci Engkau Allah, ini adalah tuduhan yang besar. Kami mempersaksikan kepada Allah . bahwa Rasulullah . adalah pemberi syafaat dan diberi kekuasaan oleh Allah untuk memberi syafaat, pemilik Al Maqamul Mahmud. Kita meminta kepada Allah Yang Maha Mulia, Tuhan Arsy yang agung untuk memberikan syafaat kepada beliau untuk kita, dan mengumpulkan kita di bawah panjinya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 63-64)
Syaikh telah menjelaskan sebab penyebaran propaganda dusta ini, beliau berkata: "Mereka itu ketika aku sebutkan apa yang telah disebutkan Allah dan Rasul-Nya . serta semua ulama dari segala golongan, tentang perintah untuk ikhlas beribadah kepada Allah, melarang dari menyerupakan diri dengan Ahlul Kitab sebelum kita yang mereka itu menjadikan ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, mereka mengatakan : kamu merendahkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali!". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 50)
Masalah Kedua : TENTANG AHLUL BAIT
Termasuk tuduhan yang diarahkan kepada Syaikh : beliau tidak mencintai Ahlul Bait Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghancurkan hak mereka. Jawaban atas pernyataan ini : Apa yang dikatakan itu bertentangan dengan kenyataan, bahkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengakui akan hak mereka untuk dicintai dan dimuliakan. Beliau konsisten dengan hal ini bahkan mengingkari orang yang tidak seperti itu. Beliau rahimahullah berkata :
"Allah telah mewajibkan kepada manusia berkaitan dengan hak hak terhadap ahlul bait. Tidak boleh bagi seorang muslim menjatuhkan hak-hak mereka dengan mengira ini adalah termasuk tauhid, padahal hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan. Kita tidak mengingkari kecuali apa yang mereka lakukan berupa penghormatan terhadap ahlul bait disertai dengan keyakinan mereka pantas untuk disembah, atau penghormatan terhadap mereka yang mengaku dirinya pantas disembah". (Mu’allafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal:284)
Dan bagi siapa saja yang mau memperhatikan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab akan membuktikan apa yang telah dia katakan. Cukuplah diketahui beliau telah menamai enam dari tujuh putranya dengan nama para ahlul bait yang mulia –semoga Allah merahmati mereka. Keenam putra itu adalah : Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan bukti yang jelas menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghargaannya terhadap ahlul bait.
Masalah Ketiga : KAROMAH PARA WALI
Beredar isu di kalangan orang bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingkari karomah para wali. Menepis kebohongan ini, di beberapa tempat Syaikh rahimahullah telah merumuskan aqidah beliau yang tegas berkaitan dengan masalah ini, berbeda jauh dengan apa yang selama ini tersebar. Diantaranya terdapat di dalam sebuah perkataannya tatkala beliau menerangkan tentang aqidah beliau :
"Dan aku meyakini tentang karomah para wali". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)
Bagaimana mungkin beliau dituduh dengan tuduhan tersebut, padahal dia mengatakan bahwa orang yang mengingkari karomah para wali adalah ahli bid’ah dan kesesatan, beliau berkata:
"Dan tidak ada seorangpun mengingkari karomah para wali kecuali dia adalah ahli bid’ah dan kesesatan". (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 1, hal: 169)
Masalah Keempat : TAKFIR (Pengkafiran -red)
Termasuk perkara terbesar yang disebarkan berkenaan dengan Syaikh dan orang-orang yang mencintainya adalah dikatakan mengkafirkan khalayak kaum muslimin dan pernikahan kaum muslimin tidak sah kecuali kelompoknya atau yang hijrah kepadanya. Syaikh telah menepis syubhat ini di beberapa tempat, diantara pada perkataan beliau :
"Pendapat orang bahwa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kita katakan : Maha Suci Engkau Allah, ini adalah kedustaan besar". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 100)
"Mereka menisbatkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syetan yang berkuda maupun yang berjalan kaki. Mereka menebarkan berita bohong yang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekedar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahwa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini bisa masuk kedalam pikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini. Aku berlepas diri kepada Allah dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rusak dan hilang kesadarannya. Semoga Allah memerangi orang-orang yang mempunyai maksud-maksud yang batil". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)
"Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasulullah . kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillah- tidaklah seperti itu". (Ad Durarus Saniyyah : 1/73)
Masalah Kelima : ALIRAN KHAWARIJ
Sebagian orang ada yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa dia berada di atas aliran khawarij yang mengkafirkan manusia hanya karena kemaksiatan biasa. Untuk menjawabnya kita ambil dari redaksi perkataan Syaikh rahimahullah sendiri. Beliau rahimahullah berkata :
"Aku tak menyaksikan seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia masuk surga atau masuk neraka kecuali orang yang telah disaksikan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Akan tetapi aku mengharapkan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, dan mengkhawatirkan orang yang berbuat jahat. Aku tidak mengkafirkan seorang dari kaum muslimin pun hanya karena dosa biasa dan aku tak mengeluarkannya dari agama Islam". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)
Masalah Keenam : TAJSIM (Menjisimkan/ menyerupakan Allah dengan makhluk)
Termasuk yang digembar-gemborkan juga tentang Syaikh adalah beliau dianggap mujassim, yaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Beliau telah menerangkan keyakinan dia tentang masalah ini dan ternyata sangat jauh dengan apa yang telah dituduhkan padanya, beliau berkata :
"Termasuk beriman kepada Allah adalah: beriman dengan apa yang Allah sifati terhadap Dzat-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui sabda Rasul-Nya, tanpa adanya tahrif (merubah teks maupun makna dari nash aslinya -pent) ataupun ta’thil (menafikan sebagian atau semua sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan terhadap diri-Nya -pent), bahkan aku beri’tikad bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah ., Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka aku tidak menafikan dari Allah sifat yang telah Dia tetapkan terhadap diri-Nya, aku tidak merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, aku tidak menyimpang dari kebenaran dalam nama dan sifat-sifat Allah. Aku tidak menggambarkan bagaimana sebenarnya sifat-sifat Allah dan juga tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk, karena Dia Maha Suci, tiada yang menyamai, tiada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki tandingan dan tidak pantas diukur dengan makhluk-Nya. Karena Allah. Yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang selain-Nya. Dzat Yang paling benar firman-Nya dan paling bagus dalam perkataan-Nya. Allah menyucikan diri-Nya dari dari apa yang dikatakan oleh para penentang yaitu ahli takyif (menggambarkan hakikat sifat-sifat Allah) maupun ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Juga mensucikan diri-Nya dari pengingkaran ahli tahrif maupun ahli ta’thil, maka Dia berfirman (yang artinya): Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam (Q.S. As Shaffat : 180-182) (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:29)
"Dan sudah dimaklumi bahwa ta’thil adalah lawan dari tajsim, ahli ta’thil adalah musuh ahli tajsim, sedang yang haq adalah yang berada di antara keduanya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 11, hal:3)
Masalah Ketujuh : MENYELISIHI PARA ULAMA
Sebagian manusia mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyelisihi semua ulama dalam dakwahkannya, tidak melihat kepada perkataan mereka, tidak mengacu kepada kitab-kitab mereka dan beliau membawa barang baru serta membuat madzhab kelima.Orang yang paling bagus dalam menjelaskan bagaimana hakikatnya adalah beliau sendiri. Beliau berkata :
"Kami mengikuti Kitab dan Sunnah serta mengikuti para pendahulu yang shalih dari umat ini dan mengikuti apa yang menjadi sandaran perkataan para imam yang empat : Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris (As Syafi’i) dan Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmati mereka". (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 96)
"Bila kalian mendengar aku berfatwa dengan sesuatu yang dengannya aku keluar dari kesepakatan (ijma’) ulama, sampaikan perkataan itu kepadaku". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 53)
"Bila kalian menyangka bahwa para ulama bertentangan dengan apa yang aku jalani, inilah kitab-kitab mereka ada di depan kita". (Ad Durarus Saniyyah jilid 2, hal: 58)
"Aku membantah seorang bermadzhab hanafi dengan perkataan ulama-ulama akhir dari madzhab hanafi, demikian juga penganut madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, semua saya bantah hanya dengan perkataan ulama-ulama mutaakhirin yang menjadi rujukan dalam madzhab mereka". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:82)
"Secara global yang saya ingkari adalah : keyakinan terhadap selain Allah dengan keyakinan yang tidak pantas bagi selain Allah. Bila Anda dapati aku mengatakan sesuatu dari diriku sendiri, maka buanglah. Atau dari kitab yang kutemukan sedang disepakati untuk tidak diamalkan, buanglah. Atau saya menukil dari ahli madzhabku saja, buanglah. Namun bila aku mengatakannya berdasarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya . atau berdasarkan ijma’ ulama dari segala madzhab, maka tidaklah pantas bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berpaling darinya hanya karena mengikuti seorang ahli di zamannya atau ahli daerahnya, atau hanya karena kebanyakan manusia di zamannya berpaling darinya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid1,hal:76)
PENUTUP
Sebagai penutup, disini ada dua nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab :
Pertama : bagi orang yang berusaha menentang dakwah ini berikut semua pengikutnya, serta mengajak manusia untuk menentangnya lalu melontarkan beraneka ragam tuduhan dan kebathilan. Bagi mereka Syaikh berkata :
"Saya katakan bagi yang menentangku, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi semua manusia untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi . terhadap umatnya. Aku katakan kepada mereka : kitab-kitab itu ada pada kalian, perhatikanlah kandungannya, jangan kalian mengambil perkataanku sedikitpun. Hanya saja apabila kalian telah mengerti sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kitab-kitabmu itu maka ikutilah meskipun berbeda dengan kebanyakan manusia… Janganlah kalian mentaatiku, dan jangan mentaati kecuali perintah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang ada di dalam kitab-kitab kalian…
Ketahuilah tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian kecuali mengikuti Rasulullah .. Dunia akan berakhir, namun surga dan neraka jangan sampai ada orang berakal yang melupakannya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:89-90)
"Aku mengajak orang yang menyelisihiku kepada empat perkara : kepada Kitabullah, kepada sunnah Rasulullah ., atau kepada ijma’ kesepakatan ahli ilmu. Apabila masih membangkang aku mengajaknya untuk mubahalah". (Ad Durarus Saniyyah : 1/55)
Kedua : bagi yang masih bimbang. Syaikh berkata : "Hendaklah Anda banyak merendah dan menghiba kepada Allah, khususnya pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada akhir malam, di akhir-akhir shalat dan setelah adzan.
Juga perbanyaklah membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, khususnya doa yang tercantum dalam As Shahih bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa dengan mengucap (yang artinya): Wahai Allah Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Yang Memutuskan hukum diantara hamba-hamba-Mu yang berselisih, tunjukkanlah kepadaku mana yang haq diantara yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki. Hendaklah Anda melantunkan doa ini dengan sangat mengharap kepada Dzat Yang Mengabulkan doa orang kesulitan yang berdoa kepada-Nya, dan Yang telah Menunjukkan Ibrahim Alaihis Salam disaat semua manusia menentangnya. Katakanlah : "Wahai Yang telah mengajari Ibrahim, ajarilah aku".
Apabila Anda merasa berat dikarenakan manusia menyelisihimu, pikirkanlah firman Allah Subahahu Wata’ala (yanga artinya) : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. (Q.S. Al Jatsiyah : 18-19)
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (Q.S. Al An’am : 118)
Ingatlah sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam As Shahih (yang artinya): "Agama Islam bermula dengan keadaan dianggap asing dan akan kembali dianggap asing seperti saat bermulanya".
Juga sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya) : "Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu …." Sampai akhir hadits [1], juga sabda beliau (yang artinya): "Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku", juga sabdanya : "Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 42-43)
"Jika telah jelas bagimu bahwa ini adalah al haq yang tidak diragukan lagi, dan sudah merupakan kewajiban untuk menyebarkan al haq itu serta mengajarkannya kepada para wanita maupun pria, maka semoga Allah merahmati orang yang menunaikan kewajiban itu dan bertaubat kepada Allah serta mengakui al haq itu pada dirinya. Sesungguhnya orang yang telah bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa sama sekali. Semoga Allah menunjukkan kami dan Anda sekalian dan semua saudara-saudara kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam…" (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:43)2.
Catatan Kaki
[1] Lengkapnya adalah: "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada manusia secara serta merta, akan tetapi mencabutnya dengan memwafatkan para ulama. Sampai apabila tidak menyisakan seorang yang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu maka mereka tersesat dan menyesatkan manusia" (HR. Bukhari Muslim).
Makalah ini diterjemahkan oleh Muhammad Hamid Alwi,
dari teks aslinya berjudul: "Tashihu Mafahim Khati’ah"
Sumber: http://www.salafyoun.com/forumdisplay.php?f=35&langid=5
Sebuah Situs yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Bin Ramzan Al Hajiry Hafidzahullah
Risalah Syaikh Muhammad Bin Ramzan pernah dimuat dalam Majalah An Nashihah
Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendukung dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.
Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syaikh yang melontarkan kepada beliau dengan bebagai tuduhan, bahwa perkataan mereka tak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduhkan tidak mempunyai bukti dari perkataan Syaikh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekedar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.
Saya yakin tak ada seorangpun yang berfikir objektif kecuali dia mengakui bahwa cara terbaik untuk mengetahui fakta yang sebenarnya adalah dengan melihat kepada yang bersangkutan, kemudian mengambil informasi langsung dari apa yang telah disampaikannya.
Kitab-kitab Syaikh dapat kita temui, perkataan-perkataannya pun juga masih terjaga. Dengan mengacu kepada itu semua akan terbukti apakah isu-isu tersebut benar atau salah. Adapun tuduhan-tuduhan yang tidak disertai dengan bukti hanyalah fatamorgana yang tak ada kenyataanya.
Dalam lembaran-lembaran ini, berisi catatan-catatan ringan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan amanah dinukil dari kitab-kitabnya yang valid. Saya telah mengumpulkannya dan yang dapat saya lakukan hanyalah sekedar menyusun.
Catatan berisi jawaban-jawaban langsung dari Syaikh terhadap tuduhan-tuduhan kepada beliau yang dilancarkan oleh para penentangnya. Dengan jelas ditepisnya segala apa yang dituduhkan. Saya yakin –dengan taufiq dari Allah .- hal itu cukup untuk menjelaskan kebenaran bagi siapa yang benar-benar mencarinya.
Adapun yang membangkang terhadap Syaikh dan dakwahnya, senang menyebarkan kedustaaan dan kebohongan, perlu saya katakan kepada mereka : kasihanilah dirimu sesungguhnya kebenaran akan jelas, agama Allah akan menang dan matahari yang bersinar terang tak akan bisa ditutupi dengan telapak tangan.
Inilah perkataan Syaikh menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, kalau Anda mendapatkan perkataan Syaikh yang mendustakannya maka tampakkan dan datangkanlah jangan Anda sembunyikan…..! Namun kalau tidak –dan Anda tidak akan mendapatkannya- maka saya menasehati Anda dengan satu hal : hendaklah Anda menghadapkan diri kepada Allah dengan menanggalkan segala hawa nafsu dan fanatisme, meminta kepada-Nya untuk memperlihatkan al haq dan membimbingmu kepadanya, kemudian Anda fikirkan apa yang telah dikatakan oleh orang ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), apakah dia membawa sesuatu yang bukan dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Lalu fikirkan sekali lagi: apakah ada jalan keselamatan selain perkataan yang benar dan membenarkan al haq. Bila telah tampak bagi Anda kebenaran maka kembalilah kepada akal sehat, menujulah kepada al haq, sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada terus menerus berada dalam kebatilan, hanya kepada Allah saja segala perkara dikembalikan.
HAKEKAT DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Sebagai permulaan pembahasan kita akan lebih baik kalau kita menukil beberapa perkataan ringkas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam menjelaskan apa yang beliau dakwahkan, jauh dari awan gelap propaganda yang dilancarkan para penentangnya yang mereka menghalangi kebanyakan manusia agar jauh dari dakwah tersebut. Beliau mengatakan :
"Aku katakan –hanya bagi Allah segala puji dan karunia dan dengan Allah segala kekuatan- : sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkanku ke jalan yang lurus, agama lurus agama Ibrahim yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik. Dan aku –Alhamdulillah-, tidak mengajak kepada madzhab salah seorang sufi, ahli fikih, filosof, atau salah satu imam-imam yang aku muliakan…..
Aku hanya mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku mengajak kepada sunnah Rasulullah . yang beliau menasehatkan ummatnya dari yang awal sampai yang akhir untuk selalu mengikutinya. Aku berharap semoga aku tidak menolak segala kebenaran bila telah sampai kepadaku, bahkan aku persaksikan kepada Allah, para malaikat dan semua makhluk-Nya, siapapun diantara kalian yang menyampaikan kebenaran kepadaku, pasti akan aku terima dengan sepenuh hati, dan aku akan memukulkan ke tembok setiap perkataan para imamku yang bertentangan dengan kebenaran, kecuali Rasulullah . karena beliau tidak mengatakan kecuali kebenaran". (Ad Durarus Saniyyah: jilid 1, hal: 37,38).
"Dan aku –segala puji hanya milik Allah-, hanyalah mengikuti, bukan mengada-ada". (Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 36).
"Gambaran mengenai permasalahan yang sebenarnya adalah aku katakan : tidak ada yang boleh didoai kecuali Allah saja tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya): "maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun bersamaan dengan Allah" (Q.S. Al Jin : 18).
Allah juga berfirman berkaitan dengan hak Nabi-Nya (yang artinya): Katakanlah : "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan-pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan" (Q.S. Al Jin : 21)
Demikianlah firman Allah dan apa yang disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah kepada kita, ….. inilah antaraku denganmu, kalau ada yang menyebutkan tentangku di luar daripada itu, maka itu adalah dusta dan kebohongan". (Ad Durarus Saniyyah : 1/90-91).
Masalah Pertama : I’TIQAD BELIAU TENTANG NABI
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab difitnah para musuhnya dengan berbagai tuduhan keji berkaitan dengan i’tiqadnya terhadap Nabi, tuduhan itu berupa :
Pertama : beliau tidak menyakini bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam adalah nabi penutup.
Dikatakan demikian, padahal semua kitab-kitab beliau penuh berisi tentang bantahan terhadap syubhat itu. Berikut ini menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut, diantaranya dalam perkataan beliau :
"Aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad . adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba pun sampai dia beriman dengan diutusnya beliau serta bersaksi akan kenabiannya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
"Makhluk paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah yang paling tinggi dalam mengikuti dan mencocoki beliau (Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam) dalam ilmu dan amalannya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:32)
Kedua : Dia telah menghancurkan hak Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak meletakkan beliau pada kedudukannya yang pantas.
Untuk melihat hakikat beliau sebagai tertuduh, saya nukilkan sebagian perkataan yang telah beliau tegaskan berkaitan dengan apa yang diyakini tentang hak Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau berkata:
"Tatkala Allah berkehendak menampakkan tauhid dan kesempurnaan agama-Nya, agar kalimat-Nya adalah tinggi dan seruan orang-orang kafir adalah rendah, Allah mengutus Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penutup para nabi dan kekasih Tuhan semesta alam. Beliau terus menerus dikenal dalam setiap generasi, bahkan dalam Taurat dan Injil telah disebutkan, sampai akhirnya Allah mengeluarkan mutiara itu, antara Bani Kinanah dengan Bani Zuhrah. Maka Allah mengutusnya pada saat terhentinya pengutusan para rasul, lalu menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Beliau mempunyai tanda-tanda dan petunjuk tentang kebenaran kenabian sebelum diangkat menjadi nabi, yang tanda-tanda tersebut tidak terkalahkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Allah membesarkan beliau dengan baik, mempunyai kehormatan tertinggi pada kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling mulia, paling lembut dan paling benar dalam berucap, akhirnya kaumnya memberikan julukan dengan Al Amin, karena Allah telah menciptakan pada beliau keadaan-keadaan bagus dan budi pekerti yang diridhai-Nya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 90-91).
"Dan beliau adalah pemimpin para pemberi syafa’at, pemilik Al Maqamul Mahmud (kedudukan hamba yang paling mulia di hari kiamat), sedang Nabi Adam . dan orang-orang sesudahnya akan berada di bawah panjinya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 86).
"Utusan yang pertama adalah Nabi Nuh Alaihis Salam dan yang paling akhir serta paling mulia adalah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:143)
"Beliau telah menyampaikan penjelasan dengan cara terbaik dan paling sempurna, manusia yang paling menginginkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah, belas kasih terhadap orang-orang yang beriman, telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan terus menerus menyembah Allah sampai beliau wafat. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:21).
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga mengambil kesimpulan dari sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya): Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan semua manusia. Beliau mengatakan : "Kewajiban mencintai Rasulullah . melebihi cinta terhadap diri sendiri, keluarga maupun harta". (Kitabut Tauhid, hal : 108).
Ketiga : mengingkari syafaat Rasululullah Sholallahu Alaihi Wasallam.
Syaikh berkenan menjawab syubhat ini, beliau mengatakan : "Mereka menyangka bahwa kami mengingkari syafaat Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Maha suci Engkau Allah, ini adalah tuduhan yang besar. Kami mempersaksikan kepada Allah . bahwa Rasulullah . adalah pemberi syafaat dan diberi kekuasaan oleh Allah untuk memberi syafaat, pemilik Al Maqamul Mahmud. Kita meminta kepada Allah Yang Maha Mulia, Tuhan Arsy yang agung untuk memberikan syafaat kepada beliau untuk kita, dan mengumpulkan kita di bawah panjinya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 63-64)
Syaikh telah menjelaskan sebab penyebaran propaganda dusta ini, beliau berkata: "Mereka itu ketika aku sebutkan apa yang telah disebutkan Allah dan Rasul-Nya . serta semua ulama dari segala golongan, tentang perintah untuk ikhlas beribadah kepada Allah, melarang dari menyerupakan diri dengan Ahlul Kitab sebelum kita yang mereka itu menjadikan ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, mereka mengatakan : kamu merendahkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali!". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 50)
Masalah Kedua : TENTANG AHLUL BAIT
Termasuk tuduhan yang diarahkan kepada Syaikh : beliau tidak mencintai Ahlul Bait Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghancurkan hak mereka. Jawaban atas pernyataan ini : Apa yang dikatakan itu bertentangan dengan kenyataan, bahkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengakui akan hak mereka untuk dicintai dan dimuliakan. Beliau konsisten dengan hal ini bahkan mengingkari orang yang tidak seperti itu. Beliau rahimahullah berkata :
"Allah telah mewajibkan kepada manusia berkaitan dengan hak hak terhadap ahlul bait. Tidak boleh bagi seorang muslim menjatuhkan hak-hak mereka dengan mengira ini adalah termasuk tauhid, padahal hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan. Kita tidak mengingkari kecuali apa yang mereka lakukan berupa penghormatan terhadap ahlul bait disertai dengan keyakinan mereka pantas untuk disembah, atau penghormatan terhadap mereka yang mengaku dirinya pantas disembah". (Mu’allafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal:284)
Dan bagi siapa saja yang mau memperhatikan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab akan membuktikan apa yang telah dia katakan. Cukuplah diketahui beliau telah menamai enam dari tujuh putranya dengan nama para ahlul bait yang mulia –semoga Allah merahmati mereka. Keenam putra itu adalah : Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan bukti yang jelas menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghargaannya terhadap ahlul bait.
Masalah Ketiga : KAROMAH PARA WALI
Beredar isu di kalangan orang bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingkari karomah para wali. Menepis kebohongan ini, di beberapa tempat Syaikh rahimahullah telah merumuskan aqidah beliau yang tegas berkaitan dengan masalah ini, berbeda jauh dengan apa yang selama ini tersebar. Diantaranya terdapat di dalam sebuah perkataannya tatkala beliau menerangkan tentang aqidah beliau :
"Dan aku meyakini tentang karomah para wali". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)
Bagaimana mungkin beliau dituduh dengan tuduhan tersebut, padahal dia mengatakan bahwa orang yang mengingkari karomah para wali adalah ahli bid’ah dan kesesatan, beliau berkata:
"Dan tidak ada seorangpun mengingkari karomah para wali kecuali dia adalah ahli bid’ah dan kesesatan". (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 1, hal: 169)
Masalah Keempat : TAKFIR (Pengkafiran -red)
Termasuk perkara terbesar yang disebarkan berkenaan dengan Syaikh dan orang-orang yang mencintainya adalah dikatakan mengkafirkan khalayak kaum muslimin dan pernikahan kaum muslimin tidak sah kecuali kelompoknya atau yang hijrah kepadanya. Syaikh telah menepis syubhat ini di beberapa tempat, diantara pada perkataan beliau :
"Pendapat orang bahwa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kita katakan : Maha Suci Engkau Allah, ini adalah kedustaan besar". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 100)
"Mereka menisbatkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syetan yang berkuda maupun yang berjalan kaki. Mereka menebarkan berita bohong yang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekedar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahwa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini bisa masuk kedalam pikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini. Aku berlepas diri kepada Allah dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rusak dan hilang kesadarannya. Semoga Allah memerangi orang-orang yang mempunyai maksud-maksud yang batil". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)
"Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasulullah . kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillah- tidaklah seperti itu". (Ad Durarus Saniyyah : 1/73)
Masalah Kelima : ALIRAN KHAWARIJ
Sebagian orang ada yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa dia berada di atas aliran khawarij yang mengkafirkan manusia hanya karena kemaksiatan biasa. Untuk menjawabnya kita ambil dari redaksi perkataan Syaikh rahimahullah sendiri. Beliau rahimahullah berkata :
"Aku tak menyaksikan seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia masuk surga atau masuk neraka kecuali orang yang telah disaksikan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Akan tetapi aku mengharapkan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, dan mengkhawatirkan orang yang berbuat jahat. Aku tidak mengkafirkan seorang dari kaum muslimin pun hanya karena dosa biasa dan aku tak mengeluarkannya dari agama Islam". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)
Masalah Keenam : TAJSIM (Menjisimkan/ menyerupakan Allah dengan makhluk)
Termasuk yang digembar-gemborkan juga tentang Syaikh adalah beliau dianggap mujassim, yaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Beliau telah menerangkan keyakinan dia tentang masalah ini dan ternyata sangat jauh dengan apa yang telah dituduhkan padanya, beliau berkata :
"Termasuk beriman kepada Allah adalah: beriman dengan apa yang Allah sifati terhadap Dzat-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui sabda Rasul-Nya, tanpa adanya tahrif (merubah teks maupun makna dari nash aslinya -pent) ataupun ta’thil (menafikan sebagian atau semua sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan terhadap diri-Nya -pent), bahkan aku beri’tikad bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah ., Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka aku tidak menafikan dari Allah sifat yang telah Dia tetapkan terhadap diri-Nya, aku tidak merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, aku tidak menyimpang dari kebenaran dalam nama dan sifat-sifat Allah. Aku tidak menggambarkan bagaimana sebenarnya sifat-sifat Allah dan juga tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk, karena Dia Maha Suci, tiada yang menyamai, tiada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki tandingan dan tidak pantas diukur dengan makhluk-Nya. Karena Allah. Yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang selain-Nya. Dzat Yang paling benar firman-Nya dan paling bagus dalam perkataan-Nya. Allah menyucikan diri-Nya dari dari apa yang dikatakan oleh para penentang yaitu ahli takyif (menggambarkan hakikat sifat-sifat Allah) maupun ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Juga mensucikan diri-Nya dari pengingkaran ahli tahrif maupun ahli ta’thil, maka Dia berfirman (yang artinya): Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam (Q.S. As Shaffat : 180-182) (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:29)
"Dan sudah dimaklumi bahwa ta’thil adalah lawan dari tajsim, ahli ta’thil adalah musuh ahli tajsim, sedang yang haq adalah yang berada di antara keduanya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 11, hal:3)
Masalah Ketujuh : MENYELISIHI PARA ULAMA
Sebagian manusia mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyelisihi semua ulama dalam dakwahkannya, tidak melihat kepada perkataan mereka, tidak mengacu kepada kitab-kitab mereka dan beliau membawa barang baru serta membuat madzhab kelima.Orang yang paling bagus dalam menjelaskan bagaimana hakikatnya adalah beliau sendiri. Beliau berkata :
"Kami mengikuti Kitab dan Sunnah serta mengikuti para pendahulu yang shalih dari umat ini dan mengikuti apa yang menjadi sandaran perkataan para imam yang empat : Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris (As Syafi’i) dan Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmati mereka". (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 96)
"Bila kalian mendengar aku berfatwa dengan sesuatu yang dengannya aku keluar dari kesepakatan (ijma’) ulama, sampaikan perkataan itu kepadaku". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 53)
"Bila kalian menyangka bahwa para ulama bertentangan dengan apa yang aku jalani, inilah kitab-kitab mereka ada di depan kita". (Ad Durarus Saniyyah jilid 2, hal: 58)
"Aku membantah seorang bermadzhab hanafi dengan perkataan ulama-ulama akhir dari madzhab hanafi, demikian juga penganut madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, semua saya bantah hanya dengan perkataan ulama-ulama mutaakhirin yang menjadi rujukan dalam madzhab mereka". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:82)
"Secara global yang saya ingkari adalah : keyakinan terhadap selain Allah dengan keyakinan yang tidak pantas bagi selain Allah. Bila Anda dapati aku mengatakan sesuatu dari diriku sendiri, maka buanglah. Atau dari kitab yang kutemukan sedang disepakati untuk tidak diamalkan, buanglah. Atau saya menukil dari ahli madzhabku saja, buanglah. Namun bila aku mengatakannya berdasarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya . atau berdasarkan ijma’ ulama dari segala madzhab, maka tidaklah pantas bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berpaling darinya hanya karena mengikuti seorang ahli di zamannya atau ahli daerahnya, atau hanya karena kebanyakan manusia di zamannya berpaling darinya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid1,hal:76)
PENUTUP
Sebagai penutup, disini ada dua nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab :
Pertama : bagi orang yang berusaha menentang dakwah ini berikut semua pengikutnya, serta mengajak manusia untuk menentangnya lalu melontarkan beraneka ragam tuduhan dan kebathilan. Bagi mereka Syaikh berkata :
"Saya katakan bagi yang menentangku, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi semua manusia untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi . terhadap umatnya. Aku katakan kepada mereka : kitab-kitab itu ada pada kalian, perhatikanlah kandungannya, jangan kalian mengambil perkataanku sedikitpun. Hanya saja apabila kalian telah mengerti sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kitab-kitabmu itu maka ikutilah meskipun berbeda dengan kebanyakan manusia… Janganlah kalian mentaatiku, dan jangan mentaati kecuali perintah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang ada di dalam kitab-kitab kalian…
Ketahuilah tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian kecuali mengikuti Rasulullah .. Dunia akan berakhir, namun surga dan neraka jangan sampai ada orang berakal yang melupakannya". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:89-90)
"Aku mengajak orang yang menyelisihiku kepada empat perkara : kepada Kitabullah, kepada sunnah Rasulullah ., atau kepada ijma’ kesepakatan ahli ilmu. Apabila masih membangkang aku mengajaknya untuk mubahalah". (Ad Durarus Saniyyah : 1/55)
Kedua : bagi yang masih bimbang. Syaikh berkata : "Hendaklah Anda banyak merendah dan menghiba kepada Allah, khususnya pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada akhir malam, di akhir-akhir shalat dan setelah adzan.
Juga perbanyaklah membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, khususnya doa yang tercantum dalam As Shahih bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa dengan mengucap (yang artinya): Wahai Allah Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Yang Memutuskan hukum diantara hamba-hamba-Mu yang berselisih, tunjukkanlah kepadaku mana yang haq diantara yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki. Hendaklah Anda melantunkan doa ini dengan sangat mengharap kepada Dzat Yang Mengabulkan doa orang kesulitan yang berdoa kepada-Nya, dan Yang telah Menunjukkan Ibrahim Alaihis Salam disaat semua manusia menentangnya. Katakanlah : "Wahai Yang telah mengajari Ibrahim, ajarilah aku".
Apabila Anda merasa berat dikarenakan manusia menyelisihimu, pikirkanlah firman Allah Subahahu Wata’ala (yanga artinya) : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. (Q.S. Al Jatsiyah : 18-19)
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (Q.S. Al An’am : 118)
Ingatlah sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam As Shahih (yang artinya): "Agama Islam bermula dengan keadaan dianggap asing dan akan kembali dianggap asing seperti saat bermulanya".
Juga sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya) : "Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu …." Sampai akhir hadits [1], juga sabda beliau (yang artinya): "Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku", juga sabdanya : "Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 42-43)
"Jika telah jelas bagimu bahwa ini adalah al haq yang tidak diragukan lagi, dan sudah merupakan kewajiban untuk menyebarkan al haq itu serta mengajarkannya kepada para wanita maupun pria, maka semoga Allah merahmati orang yang menunaikan kewajiban itu dan bertaubat kepada Allah serta mengakui al haq itu pada dirinya. Sesungguhnya orang yang telah bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa sama sekali. Semoga Allah menunjukkan kami dan Anda sekalian dan semua saudara-saudara kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam…" (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:43)2.
Catatan Kaki
[1] Lengkapnya adalah: "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada manusia secara serta merta, akan tetapi mencabutnya dengan memwafatkan para ulama. Sampai apabila tidak menyisakan seorang yang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu maka mereka tersesat dan menyesatkan manusia" (HR. Bukhari Muslim).
Makalah ini diterjemahkan oleh Muhammad Hamid Alwi,
dari teks aslinya berjudul: "Tashihu Mafahim Khati’ah"
Sumber: http://www.salafyoun.com/forumdisplay.php?f=35&langid=5
Sebuah Situs yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Bin Ramzan Al Hajiry Hafidzahullah
Risalah Syaikh Muhammad Bin Ramzan pernah dimuat dalam Majalah An Nashihah
Aqidah Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi
A Q I D A H
Al Imam Muwaffiquddin Abu Muhammad
'Abdullah bin Muhammmad bin Qudamah
( 541 H – 620 H )
Biografi Ringkas Ibnu Qudamah
Beliau adalah Syaikhul Imam Al Qudwah Al 'Allamah Al Mujtahid, Syaikhul Islam Al Faqiih Az Zahid Muwaffiquddin Abu Muhammad 'Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Qudamah Al Maqdisiy.
Beliau dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun 541 H di Negara Jama'iil di daerah Palestina.
Beliau menuntut ilmu bersama dengan anak bibi beliau Al Hafidz 'Abdul Ghoniy Al Maqdisy.
Berkata Ibnu Sholah : " Belum saya jumpai seorangpun semisal Al Muawaffiq. "
Berkata Ibnul Jauzi : " Siapa saja yang telah melihat Al Muwaffiq maka ia akan seolah-olah melihat sebagian para shahabat, dan seolah-olah ada cahaya yang memancar dari wajah beliau. "
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : " Tidaklah datang ke Syam setelah Al Imam Al auza'I yang lebih faqih dibandingkan dengan Al Muwaffiq. "
Karya Ilmiyah Beliau
Diantara karya tulis ilmiyah beliau : Al Mughni, Al Kaafi, Al Muqni', Al 'Umdah fil Fiqh Hanbaliy, Itsbat Shifat Al 'Uluw dan masih banyak lagi selainnya.
Beliau wafat – rahimahullah – pada hari Sabtu, Hari iedul Fithr tahun 620 H, dan dikebumikan Lembah Bukit Qasiyun di Sholihiyah Damaskus, diatas Jami' Al Hanabilah.
Sekilas tentang Risalah ini
Risalah ini di cetak bersamaan dengan Silsilah Ilmiyah Sa'udiyah, yang telah di koreksi dari nuskhah-nuskhah – lembaran-lembaran asli- oleh Samahatusy Syaikh Al 'Allamah 'Abdullah bin Muhammmad bin Humaid – rahimahullah- dan Risalah ini telah diterbitkan pula oleh Penerbitan An Nahdhah Al Haditsah di Makkah Al Mukarramah, pada cetakan pertama.
بسم الله الرحمن الرحيم
Kalian ketahuilah semoga Allah merahmati kalian : Bahwa sesungguhnya Rabb kalian adalah Dzat yang Maha Agung, Maha Menentukan dan Maha Besar.
Tidaklah sifat-Nya itu akan dijangkau dengan akal pemikiran, dan tidak akan terlampaui dalam penetapannya dari yang tercantum dalam nash-nash syara' . Dan sesungguh-Nya Dia tidaklah serupa dengan makhluk-makhluq-Nya, dan sifat-sifat-Nya tidak akan serupa dengan sifat-sifat mereka, sebagaimana halnya Dzat Allah tidak serupa dengan Dzat-dzat mereka.
Dan dalam pen-sifatan Allah tidak lebih dari yang ditunjukkan oleh khabar yang shohih dan atsar-atsar yang jelas, dan janganlah kalian menafsirkannya dengan pendapat-pendapat kalian dan jangan kalian kembalikan kepada hawa nafsu kalian, dan cukupkanlah dalam menerima ayat-ayat sifat dan khabar-khabar tentangnya sebatas riwayat dan qira'ah, dan kalian berkeyakinan bahwasanya Allah tidak satupun yang serupa dan sebanding dengan-Nya.
Dan berpijaklah kalian sebagaimana pijakan para Salaf kalian, dan contohilah mereka dalam hal ini disertai dengan apa yang telah diperintahkan oleh para Imam-imam kalian
Dan takutlah kalian akan diri kalian, jika menggunjingkan sesuatu tentang Allah subhanahu wata'ala, yang mana kalian tidak memiliki contoh pendahulu yang ucapannya diterima,karena kalian –jika berbuat demikian- niscaya akan celaka sedangkan kalian tidak mengetahuinya, dan kalian telah berbuat bid'ah sedangkan kalian beranggapan bahwa kalian telah mendapatkan hidayah.
Dan kalian ketahuilah bahwa sesungguhnya Agama Allah berada antara yang bersikap berlebih-lebihan dan yang memudah-mudahkan agama Allah, sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang berada dipertengahan, dan sesungguhnya telah binasa dalam berbicara tentang masalah sifat-sifat Allah dua kalangan :
1. Kalangan yang berlebih-lebihan sehingga mereka menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, dan mereka memahami sifat-sifat Allah yang mereka dengar serupa dengan makhluk yang dapat dijangkau oleh akal mereka, yang pada akhirnya mereka terjatuh pada pemahaman tasybih dan tajsim –menjadikan Allah bagaikan suatu jasad seperti halnya makhluk, pen- dan mereka sesat dari Shirathal Mustaqim.
2. Dan kalangan lainnya menolak khabar-khabar yang shohih, dan enggan menerima ucapan Penghulu kaum terdahulu dan terakhir shollalahu 'alaihi wasallam, lalu mereka menta'wilkan khabar-khabar itu jika akal pemikiran mereka tidak dapat menjangkau maknanya, dan mereka merubah segala yang difirmankan oleh Allah dan yang disabdakan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dengan hawa nafsu mereka , hungga akhirnya mereka sesat dan juga menyesatkan.
Adapun Ahlul Haq mereka meniti jalan yang lurus antara kedua jalan tersebut, mereka beriman dan akan mendapatkan rasa aman, dan mereka menyerahkan diri mereka hingga akhirnya mendapatkan keselamatan. Dan mereka sama sekali tidak melampaui batasan Naql –nash-nash-, dan mereka tidak menjadikan akal pemikiran sebagai tempat mengambil hukum dalam menolak perkataan Ash Shodiq dan penafsiran beliau..
Dan mereka mengatakan : Kami beriman dengan setiap makna yang dikehendaki oleh Dzat yang telah berbicara dengannya, dan Dialah Dzat yang lebih mengetahui dari apa yang diinginkan-Nya, dan tidaklah mereka berpaling dari lafadznya dan tidak pula menta'wilkannya dan juga tidak menafsirkannya –dengan tafsiran yang tidak sesuai-.
Dan ketika gejolak nafsu mereka hendak mempermasalahkan salah satu dari permasalahan ini, mereka akan menghalaunya dengan dua hal :
1. Bahwa sesungguhnya para Ulama Salaf yang telah mendahului mereka tidak menambah sedikitpun, hanya sekedar tilawah dan riwayat semata, tidaklah mereka menafsirkannya, dan tidak juga menta'wilkannya sedangkan mereka sama sekali tidak ragu akan keabsahan dan benarnya aqidah para Salaf dan kejelian pandangan mereka, dan kami telah diperintahkan untuk mengikuti mereka, dan telah diberitahukan kepada kami bahwa Al Haq berada pada jalan mereka, maka wajib bagi kami untuk mengikuti mereka, dan meniti jalan mereka, dan kami mengetahui bahwa yang meniti selain jalan mereka akan mengantarkannya kepada selain kampung mereka yang tiada lain adalah Daarus Salaam – sorga Darus Salam-.
2. Kedua : bahwasanya kami telah mengetahui akan kebenaran yang telah mengucapkan hal itu, maka wajib bagi kami untuk beriman kepada-Nya, dan ilmu kami tidak akan dapat menjangkau kehendak-Nya dan hakikat makna kalam-Nya , maka wajib bagi kami untuk diam dari semua yang tidak kami ketahui, dan kami mengetahui bahwa yang mengucapkannya adalah Dzat yang paling mengetahui akan makna kalam-Nya, maka kamipun beriman dengan segala maknanya dan kami katakan seperti yang Ia firmankan, dan kami pun diam dari semua yang didiamkan oleh-Nya, dan bukan suatu yang memberatkan kami untuk beriman dengan firman-Nya dikarenakan kesemuanya adalah haq dan tidak pula dengan diamnya kami, dikarenakan itulah yang benar.
Dan juga untuk selalu mengikuti Ash Shodiq shollallahu 'alaihi wasallam dalam dua perihal beliau : Dalam sabda beliau dan diamnya beliau, dan inilah makna dari As Sunnah.
Dimana yang dimaksudkan dengan As Sunnah adalah Jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, maka Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti Rasul mereka shollallahu 'alaihi wasallam, Jalan beliau, dan beriman dengan ucapan-ucapan beliau, dan merekapun diam ketika beliau mendiamkan suatu perkara.
Sedangkan Ahlul Bid'ah adalah mereka yang mengada-adakan sesuatu dari diri mereka sendiri, walau itu suatu ucapan dan tidak mengikuti Rasul mereka.
Maka hati-hatilah kalian –semoga Allah merahmati kalian-dari semua penambahan nash-nash syara', dan yang memahami sifat-sifat Allah sebatas jangkauan akal pemikiran, dan wajib bagi kalian juga agar berhati-hati pada diri kalian dalam mengutarakan suatu kalimat yang tidak ada hadits shohih menjadi sandarannya, dikarenakan kalian akan ditanya perihal itu suatu saat nanti, dan permasalahan ini permasalahan yang pelik, dan titiannya sangatlah berbahaya, sungguh telah sesat beberapa ummat terdahulu yang mereka memiliki akal pemikiran yang mumpuni dengan ilmu yang sangatlah luas.
Dan berpeganglah kalian diatas Sunnah dan gigitlah erat-erat dengan geraham kalian,dan tidak dengan berpaling kekanan ataukah kekiri, dan janganlah kalian menyimpang walaupun sedikit ataukah banyak, dan janganlah kalian menambahkan dari yang telah dikatakan Ash Shodiq shollallahu 'alaihi wasallam walaupun satu huruf, dan janganlah kalian menyebutkan suatu makna tambahan yang datangnya dari diri-diri kalian, dimana telah disampaikan kepada kami dari 'Abdurrahman bin Mahdi – rahimahullah- bahwa disampaikan kepada beliau tentang seorang Amir yang terjatuh dalam masalah tasybih –terjerumus dalamnya-
Maka beliau berkata : " Wahai anak pamanku, permasalahan ini akan menjadi ringan selama perkara itu belum menyelubungi dirimu , namun telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau berkata demikian dan demikian ?"
Ia berkata : " Benar wahai Abu Sa'id ".
Beliau berkata : " Wahai anak pamanku, kalau begitu marilah kita berbincang sedikit tentang makhluk Allah ta'ala sebelum kita berbincang tentang Dzat Allah, berapakah yang telah disampaiakan kepada engkau dari sayap-sayap Jibril ?
Ia berkata : " Enam ratus sayap."
Beliau berkata : " Wahai anak pamanku, Kami tidak akan menanyakan lima ratus sembilan puluh tujuh sayapnya, hanya sifatkan saja kepada kami tiga sayap Jibril saja. Dan kedua sayapnya tentulah berada di dua sisi Jibril, maka manakah yang ketiga ? "
Maka Amir itu berpikir dalam dirinya dan tidaklah ia menemukan jawaban dimana ia akan menempatkan sayap yang ketiga itu, maka iapun menjawab : "Saya tidak tahu "
Maka beliau berkata : Wahai anak pamanku, jikalau sebagian dari makhluk ciptaan-Nya engkau tidak sanggup untuk mensifatkanya maka bagaimana kah dengan Dzat yang menciptakannya ? !! "
Maka ia berkata : " Wahai Abu Sa'id , saya bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala – atau sebagaimana yang disebutkan dalam kisah itu.-
Dari sini adanya peringatan bagi siapapun yang memiliki pemikiran akan kelemahan ia dalam menjangkau sifat Rabb segala penguasa, dan yang lebih jelas dari ini, bahwasanya manusia sendiri teramat lemah untuk mengetahui dirinya sendiri, dimana ia tidaklah mengetahui dimana diletakkan jiwa dan ruh itu, dan perbedaan antara keduanya, dan hakikat dari tidur dan tempat sebenarnya tidur itu, dan kapan ia mendapatkan keledzatanya, pada saat akalnya terbuai ataukah sebelumnya atau setelahnya, dan semisalnya, dan inilah yang tidak diketahui oleh setiap manusia dari dirinya sendiri,dan hal ini bukan suatu yang tersembunyi baginya, lantas bagaimanakah ia akan mencoba mengukur sesuatu yang tidak dapat ia saksikan,dan tidak ada sesuatu yang dapat dimisalkan dengan-Nya dan tidak ada bandingan-Nya yang dapat dijadikan pedoman akan keberadaan-Nya.
Dan semoga Allah memberikan bagi kami dan bagi kalian keselamatan dan taufiq, dan segala puji bagi Allah semata, serta sholawat dan salam atas Sayyid kami Muhammad dan segenap keluarga dan para shahabat beliau.
Al Imam Muwaffiquddin Abu Muhammad
'Abdullah bin Muhammmad bin Qudamah
( 541 H – 620 H )
Biografi Ringkas Ibnu Qudamah
Beliau adalah Syaikhul Imam Al Qudwah Al 'Allamah Al Mujtahid, Syaikhul Islam Al Faqiih Az Zahid Muwaffiquddin Abu Muhammad 'Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Qudamah Al Maqdisiy.
Beliau dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun 541 H di Negara Jama'iil di daerah Palestina.
Beliau menuntut ilmu bersama dengan anak bibi beliau Al Hafidz 'Abdul Ghoniy Al Maqdisy.
Berkata Ibnu Sholah : " Belum saya jumpai seorangpun semisal Al Muawaffiq. "
Berkata Ibnul Jauzi : " Siapa saja yang telah melihat Al Muwaffiq maka ia akan seolah-olah melihat sebagian para shahabat, dan seolah-olah ada cahaya yang memancar dari wajah beliau. "
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : " Tidaklah datang ke Syam setelah Al Imam Al auza'I yang lebih faqih dibandingkan dengan Al Muwaffiq. "
Karya Ilmiyah Beliau
Diantara karya tulis ilmiyah beliau : Al Mughni, Al Kaafi, Al Muqni', Al 'Umdah fil Fiqh Hanbaliy, Itsbat Shifat Al 'Uluw dan masih banyak lagi selainnya.
Beliau wafat – rahimahullah – pada hari Sabtu, Hari iedul Fithr tahun 620 H, dan dikebumikan Lembah Bukit Qasiyun di Sholihiyah Damaskus, diatas Jami' Al Hanabilah.
Sekilas tentang Risalah ini
Risalah ini di cetak bersamaan dengan Silsilah Ilmiyah Sa'udiyah, yang telah di koreksi dari nuskhah-nuskhah – lembaran-lembaran asli- oleh Samahatusy Syaikh Al 'Allamah 'Abdullah bin Muhammmad bin Humaid – rahimahullah- dan Risalah ini telah diterbitkan pula oleh Penerbitan An Nahdhah Al Haditsah di Makkah Al Mukarramah, pada cetakan pertama.
بسم الله الرحمن الرحيم
Kalian ketahuilah semoga Allah merahmati kalian : Bahwa sesungguhnya Rabb kalian adalah Dzat yang Maha Agung, Maha Menentukan dan Maha Besar.
Tidaklah sifat-Nya itu akan dijangkau dengan akal pemikiran, dan tidak akan terlampaui dalam penetapannya dari yang tercantum dalam nash-nash syara' . Dan sesungguh-Nya Dia tidaklah serupa dengan makhluk-makhluq-Nya, dan sifat-sifat-Nya tidak akan serupa dengan sifat-sifat mereka, sebagaimana halnya Dzat Allah tidak serupa dengan Dzat-dzat mereka.
Dan dalam pen-sifatan Allah tidak lebih dari yang ditunjukkan oleh khabar yang shohih dan atsar-atsar yang jelas, dan janganlah kalian menafsirkannya dengan pendapat-pendapat kalian dan jangan kalian kembalikan kepada hawa nafsu kalian, dan cukupkanlah dalam menerima ayat-ayat sifat dan khabar-khabar tentangnya sebatas riwayat dan qira'ah, dan kalian berkeyakinan bahwasanya Allah tidak satupun yang serupa dan sebanding dengan-Nya.
Dan berpijaklah kalian sebagaimana pijakan para Salaf kalian, dan contohilah mereka dalam hal ini disertai dengan apa yang telah diperintahkan oleh para Imam-imam kalian
Dan takutlah kalian akan diri kalian, jika menggunjingkan sesuatu tentang Allah subhanahu wata'ala, yang mana kalian tidak memiliki contoh pendahulu yang ucapannya diterima,karena kalian –jika berbuat demikian- niscaya akan celaka sedangkan kalian tidak mengetahuinya, dan kalian telah berbuat bid'ah sedangkan kalian beranggapan bahwa kalian telah mendapatkan hidayah.
Dan kalian ketahuilah bahwa sesungguhnya Agama Allah berada antara yang bersikap berlebih-lebihan dan yang memudah-mudahkan agama Allah, sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang berada dipertengahan, dan sesungguhnya telah binasa dalam berbicara tentang masalah sifat-sifat Allah dua kalangan :
1. Kalangan yang berlebih-lebihan sehingga mereka menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, dan mereka memahami sifat-sifat Allah yang mereka dengar serupa dengan makhluk yang dapat dijangkau oleh akal mereka, yang pada akhirnya mereka terjatuh pada pemahaman tasybih dan tajsim –menjadikan Allah bagaikan suatu jasad seperti halnya makhluk, pen- dan mereka sesat dari Shirathal Mustaqim.
2. Dan kalangan lainnya menolak khabar-khabar yang shohih, dan enggan menerima ucapan Penghulu kaum terdahulu dan terakhir shollalahu 'alaihi wasallam, lalu mereka menta'wilkan khabar-khabar itu jika akal pemikiran mereka tidak dapat menjangkau maknanya, dan mereka merubah segala yang difirmankan oleh Allah dan yang disabdakan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dengan hawa nafsu mereka , hungga akhirnya mereka sesat dan juga menyesatkan.
Adapun Ahlul Haq mereka meniti jalan yang lurus antara kedua jalan tersebut, mereka beriman dan akan mendapatkan rasa aman, dan mereka menyerahkan diri mereka hingga akhirnya mendapatkan keselamatan. Dan mereka sama sekali tidak melampaui batasan Naql –nash-nash-, dan mereka tidak menjadikan akal pemikiran sebagai tempat mengambil hukum dalam menolak perkataan Ash Shodiq dan penafsiran beliau..
Dan mereka mengatakan : Kami beriman dengan setiap makna yang dikehendaki oleh Dzat yang telah berbicara dengannya, dan Dialah Dzat yang lebih mengetahui dari apa yang diinginkan-Nya, dan tidaklah mereka berpaling dari lafadznya dan tidak pula menta'wilkannya dan juga tidak menafsirkannya –dengan tafsiran yang tidak sesuai-.
Dan ketika gejolak nafsu mereka hendak mempermasalahkan salah satu dari permasalahan ini, mereka akan menghalaunya dengan dua hal :
1. Bahwa sesungguhnya para Ulama Salaf yang telah mendahului mereka tidak menambah sedikitpun, hanya sekedar tilawah dan riwayat semata, tidaklah mereka menafsirkannya, dan tidak juga menta'wilkannya sedangkan mereka sama sekali tidak ragu akan keabsahan dan benarnya aqidah para Salaf dan kejelian pandangan mereka, dan kami telah diperintahkan untuk mengikuti mereka, dan telah diberitahukan kepada kami bahwa Al Haq berada pada jalan mereka, maka wajib bagi kami untuk mengikuti mereka, dan meniti jalan mereka, dan kami mengetahui bahwa yang meniti selain jalan mereka akan mengantarkannya kepada selain kampung mereka yang tiada lain adalah Daarus Salaam – sorga Darus Salam-.
2. Kedua : bahwasanya kami telah mengetahui akan kebenaran yang telah mengucapkan hal itu, maka wajib bagi kami untuk beriman kepada-Nya, dan ilmu kami tidak akan dapat menjangkau kehendak-Nya dan hakikat makna kalam-Nya , maka wajib bagi kami untuk diam dari semua yang tidak kami ketahui, dan kami mengetahui bahwa yang mengucapkannya adalah Dzat yang paling mengetahui akan makna kalam-Nya, maka kamipun beriman dengan segala maknanya dan kami katakan seperti yang Ia firmankan, dan kami pun diam dari semua yang didiamkan oleh-Nya, dan bukan suatu yang memberatkan kami untuk beriman dengan firman-Nya dikarenakan kesemuanya adalah haq dan tidak pula dengan diamnya kami, dikarenakan itulah yang benar.
Dan juga untuk selalu mengikuti Ash Shodiq shollallahu 'alaihi wasallam dalam dua perihal beliau : Dalam sabda beliau dan diamnya beliau, dan inilah makna dari As Sunnah.
Dimana yang dimaksudkan dengan As Sunnah adalah Jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, maka Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti Rasul mereka shollallahu 'alaihi wasallam, Jalan beliau, dan beriman dengan ucapan-ucapan beliau, dan merekapun diam ketika beliau mendiamkan suatu perkara.
Sedangkan Ahlul Bid'ah adalah mereka yang mengada-adakan sesuatu dari diri mereka sendiri, walau itu suatu ucapan dan tidak mengikuti Rasul mereka.
Maka hati-hatilah kalian –semoga Allah merahmati kalian-dari semua penambahan nash-nash syara', dan yang memahami sifat-sifat Allah sebatas jangkauan akal pemikiran, dan wajib bagi kalian juga agar berhati-hati pada diri kalian dalam mengutarakan suatu kalimat yang tidak ada hadits shohih menjadi sandarannya, dikarenakan kalian akan ditanya perihal itu suatu saat nanti, dan permasalahan ini permasalahan yang pelik, dan titiannya sangatlah berbahaya, sungguh telah sesat beberapa ummat terdahulu yang mereka memiliki akal pemikiran yang mumpuni dengan ilmu yang sangatlah luas.
Dan berpeganglah kalian diatas Sunnah dan gigitlah erat-erat dengan geraham kalian,dan tidak dengan berpaling kekanan ataukah kekiri, dan janganlah kalian menyimpang walaupun sedikit ataukah banyak, dan janganlah kalian menambahkan dari yang telah dikatakan Ash Shodiq shollallahu 'alaihi wasallam walaupun satu huruf, dan janganlah kalian menyebutkan suatu makna tambahan yang datangnya dari diri-diri kalian, dimana telah disampaikan kepada kami dari 'Abdurrahman bin Mahdi – rahimahullah- bahwa disampaikan kepada beliau tentang seorang Amir yang terjatuh dalam masalah tasybih –terjerumus dalamnya-
Maka beliau berkata : " Wahai anak pamanku, permasalahan ini akan menjadi ringan selama perkara itu belum menyelubungi dirimu , namun telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau berkata demikian dan demikian ?"
Ia berkata : " Benar wahai Abu Sa'id ".
Beliau berkata : " Wahai anak pamanku, kalau begitu marilah kita berbincang sedikit tentang makhluk Allah ta'ala sebelum kita berbincang tentang Dzat Allah, berapakah yang telah disampaiakan kepada engkau dari sayap-sayap Jibril ?
Ia berkata : " Enam ratus sayap."
Beliau berkata : " Wahai anak pamanku, Kami tidak akan menanyakan lima ratus sembilan puluh tujuh sayapnya, hanya sifatkan saja kepada kami tiga sayap Jibril saja. Dan kedua sayapnya tentulah berada di dua sisi Jibril, maka manakah yang ketiga ? "
Maka Amir itu berpikir dalam dirinya dan tidaklah ia menemukan jawaban dimana ia akan menempatkan sayap yang ketiga itu, maka iapun menjawab : "Saya tidak tahu "
Maka beliau berkata : Wahai anak pamanku, jikalau sebagian dari makhluk ciptaan-Nya engkau tidak sanggup untuk mensifatkanya maka bagaimana kah dengan Dzat yang menciptakannya ? !! "
Maka ia berkata : " Wahai Abu Sa'id , saya bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala – atau sebagaimana yang disebutkan dalam kisah itu.-
Dari sini adanya peringatan bagi siapapun yang memiliki pemikiran akan kelemahan ia dalam menjangkau sifat Rabb segala penguasa, dan yang lebih jelas dari ini, bahwasanya manusia sendiri teramat lemah untuk mengetahui dirinya sendiri, dimana ia tidaklah mengetahui dimana diletakkan jiwa dan ruh itu, dan perbedaan antara keduanya, dan hakikat dari tidur dan tempat sebenarnya tidur itu, dan kapan ia mendapatkan keledzatanya, pada saat akalnya terbuai ataukah sebelumnya atau setelahnya, dan semisalnya, dan inilah yang tidak diketahui oleh setiap manusia dari dirinya sendiri,dan hal ini bukan suatu yang tersembunyi baginya, lantas bagaimanakah ia akan mencoba mengukur sesuatu yang tidak dapat ia saksikan,dan tidak ada sesuatu yang dapat dimisalkan dengan-Nya dan tidak ada bandingan-Nya yang dapat dijadikan pedoman akan keberadaan-Nya.
Dan semoga Allah memberikan bagi kami dan bagi kalian keselamatan dan taufiq, dan segala puji bagi Allah semata, serta sholawat dan salam atas Sayyid kami Muhammad dan segenap keluarga dan para shahabat beliau.
Budaya “Perdukunan” dan “Paranormal”
Fenomena Sihir dan Perdukunan
Allah Ta’ala berfirman,
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﭼ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”
Firman Allah ta’ala,
ﭽ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﭼ
“Musa berkata: "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?" padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan".”
Firman-Nya ta’ala,
ﭽ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪﭫ ﭬ ﭭ ﭮﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭼ0
“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.(81) Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”
Dan firman-Nya,
ﭽ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﭼ
“Maka Musa merasa takut dalam hatinya.(67) Kami berkata: "janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".” (Thaahaa, ayat : 67-69)
ﭽ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭼ
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.(118) Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.(119) Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. (120) Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,(121) "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun".” (al-A’raaf, ayat : 117-122)
Dan firman Allah subhanahu,
ﭽ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﭼ
“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,(1) dari kejahatan makhluk-Nya,(2) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,(3) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (4) dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (al-Falaq: 1-4)
Al-Qurthubi menafsirkan, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” Yakni, sihir-sihir yang mana wanita-wanita tukang sihir itu menghembuskan pada buhul-buhul benang ketika menjampi-jampi /memanterainya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” Telah mengatakan Mujahid, Ikrimah, al-Hasan Qatadah dan adh-Dhahak, yakni wanita-wanita tukang sihir.
Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, yaitu dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul benang ketika mereka memanterainya, berkata al-Qasami, “Inilah sebagaimana yang dikatakan ahli takwil.”
Dalil-dalil dari as-Sunnah
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi # bahwa beliau bersabda, “Jauhilah kalian tujuh dosa besar yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketujuh dosa yang besar tersebut?”
Beliau # menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa Allah haramkan kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri disaat terjadinya peperangan dan menuduh wnaita-wanita muslimah yang telah bersuami lagi menjanda diri namun dalam keadaan lengah bahwa mereka melakukan zina.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah # bersabda,
“Barang siapa yang mempelajari salah satu cabang ilmu nujum, berarti dia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir. Semakian bertampah yang dipelajarinya, maka semakin bertambah pula (yaitu dosanya).”
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, bahwa Rasulullah # bersabda,
“Bukan bagian dari golongan kami yang melakukan tathayyur (meramal kesialan) atau seseorang yang melakukan praktek perdukunan atau mendatangi dukun, atau melakukan sihir dan minta untuk disihirkan. Dan siapa saja yang mendatangi seorang dukun lalu dia membenarkannya atas segala yang diucapkan –dukun tersebut-, maka sungguh orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.”
Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah # bersabda, “Tidak akan masuk surga pecandu khamar dan seseorang yang mempercayai sihir dan seseorang yang memutuskan tali silaturrahmi.”
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Barangsiapa mendatangi seorang peramal atau tukang sihir atau dukun, lalu dia bertanya dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad #.”
Abu Muhammad al-Maqdisi rahimahullah didalam kitab al-Kaafi mengatakan, “Sihir adalah jampi-jampi, mantra-mantra dan simpul-simpul ikatan yang memberikan pengaruh kepada hati dan badan, hingga seseorang dapat menjadi sakit dan terbunuh dan juga dapat memisahkan antara suami dan istrinya.
Allah ta’ala berfirman,
“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (al-Baqarah: 102)”
(Dikutip secara ringkas dari ash-Shaarim al-Battar)
Siapakah yang dinamakan Dukun?
Dalam persepsi syara’ yang dikategorikan sebagai dukun/ahli teluh adalah siapa saja yang mengklaim memiliki pengetahuan akan perkara-perkara gaib, walau melalu perantara selain dirinya sndiri. Pada tinjauan ini, termasuk dalam kategori dukun;
1. Kahin (dukun), mereka adalah orang-orang yang berinteraksi dengan syaitan, meminta bantuan syaitan tersebut untuk mendapatkan kabar dari langit. Lalu dukun (kahin) ini menyampaikannya kepada siapa saja yang bertanya kepadanya. Hanya saja penyampaian mereka seringkali disertai dengan kedustaan dan ucapan-ucapan manusia. Ketika perkataan dukun tersebut sesuai dengan kejadian yang ada, orang-orangpun menyangkan bahwa dukun ini mengetahui perkara gaib.
2. ar-Rammal, yaitu seseorang yang menggaris sesuatu di atas tanah atau selainnya untuk meramalkan hal-hal gaib.
3. an-Nusyrah, yaitu pengobatan sihir dengan mempergunakan sihir dan bantuan syaitan. Ibnul Jauzi mengatakan, “an-nusyrah adalah pengoabtan sihir dari seorang penderita sihir, yang hampir tidak mungkin dilakukan kecuali bagi seseorang yang mengetahui ilmu sihir.”
Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “an-nusyrah adalah bagian dari ilmu sihir.”
Dari hadits Jabir, Rasulullah # telah ditanya tentang an-nusyrah, lalu beliau # menjawab, “an-nusyrah adalah bagian dari amal syaitan.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad yang hasan)
4. al-Munajjim (ahli nujum), yaitu seseorang yang mempelajari ilmu nujum (atau dikenal dengan astereology) ataukah berkeyakinan bahwa an-nujum (bintang-bintang) memberikan pengaruh pada kejadian dan nasib seseorang. Ataukah bintang-bintang tersebut sebagai sebab kebaikan dan keburukan pada diri seseorang.
5. ath-tathayyur, yaitu meramalkan nasib buruk atau kesialan berdasarkan kejadian/hal yang terlihat, didengar atau suatu yang diketahuinya. Allah ta’ala berfirman,
“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-A’raf: 131)
At-tathayyur ini tergolong perbuatan syirik, jika terdapat rasa was-was, perasaan takut dan khawatir pada diri orang yang melakukannya. Adapun yang tidak memperdulikan hal tersebut, maka tidaklah termasuk perbuatan syirik.
6. al-‘Iyafah, yaitu ramalan kebaikan atau kesialan dengan menerbangkan burung. (Lihat an-Nihayah fii Ghariib al-Hadits, bab. Az-zai ma’a al-jiim)
Juga terkadang dengan nama dan suara burung bahkan dengan arah terbangnya.
7. ath-Thariq bil-hashaa, yaitu memukul-mukulkan batu-batuan untuk mengetahui dan meramalkan hal-hal gaib.
8. Paranormal, yaitu seseorang yang mengklaim pengetahuan ilmu gaib (metafisika) dan dapat berhubungan dengan dunia kasat mata (gaib). Baik pada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu tanpa disaksikannya atau yang akan terjadi di masa mendatang. Penamaan ini masuk dalam lingkup ‘arraf.
9. Tukang ramal (‘arraf), Ibnul Atsir menerangkan, “Bahwa yang dimaksud dengan ‘arraaf (peramal) adalah ahli nujum atau “orang pintar”, yang mengklaim mengetahui ilmu gaib padahal hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang mengetahui persoalan gaib. Tukang ramal ini termasuk dalam kategori kahin (dukun).”
10. Tukang teluh dan tukang sihir, yang meniupkan sihir/teluh pada jampi-jampi, mantera-mantera tetentu, buhul dan selainnya, sebagaimana disebutkan sebelumnya diatas.
Kesimpulannya, bahwa penamaan “dukun”, berlaku bagi siapa saja yang dengan segala cara dan metode mengklaim pengetahuan akan hal-hal gaib juga siapa saja yang berhubungan dengan syaitan untuk mengetahui perkara-perkara gaib.
Beberapa sebab Kekafiran para Dukun
1. Dikarenakan para dukun tersebut pada hakikatnya adalah pembantu-pembantu syaitan serta loyal kepada mereka. Dan syaitan tidak akan membantu seseorang kecuali orang tersebut loyal kepadanya. Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya syaitan akan memberikan wahyu kepada para wali mereka.” (al-An’am: 121)
2. Para dukun tersebut telah keluar dari cahaya iman dan hidayah dan terjerumus didalam jurang kekufuran dan kesesatan. Allah ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang kafir, wali mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan merek dari cahaya menuju kegelapan.” (al-Baqarah: 257)
3. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisa`: 119)
Para dukun tersebut tidak hanya menjadikan syaitan sebagai pelindung, bahkan sebagai pembantu, penolong dan wali mereka dalam praktek perdukunan tersebut.
4. Penamaan thaghut kepada para dukun, sebagaimana pada firman Allah subhanahu wata’ala,
“Dan mereka berkeinginan untuk berhukum kepada thaghut, sedangkan mereka telah diperintahkan untuk kufur kepadanya. Sesungguhnya syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang nyata.” (an-Nisa`: 60)
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berhukum kepada seorang dukun yang bernama Juhainah. Penyerupaan para dukun tersebut dengan Allah ta’ala pada sifat-sifat-Nya serta klaim keikut sertaan mereka dalam kuasa Rububuyah Allah. Karena perkara gaib adalah bagian dari sifat rububiyah Allah yang telah disembunyikannya disisi-Nya. Allah ta’ala berfirman,
“Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26-27)
5. Klaim mereka tersebut, yaitu mengetahui perkara gaib, mengandung pendustaan terhadap al-Qur`an al-Karim dan syariat yang Allah turunkan kepada para rasul-Nya.
6. Beberapa keterangan syara’ yang menunjukkan kekufuran orang-orang yang mendatangi para dukun, tukang teluh, penyihir, paranormal dan selainnya kemudian dia membenarkannya, tentulah menunjukkan kekufuran pelaku kekufuran itu sendiri. Dan juga Nabi # bersabda,
“Bukanlah bagi kami yang meramalkan kesialan atau meminta ramalan kesialan, yang melakukan praktek perdukunan dan mendatangi para dukun, yang melakukan sihir dan minta diberikan sihir. Barang siapa yang mendatangi seorang dukun lalu membenarkan semua yang dikatakannya, maka dia telah kufur kepada Muhammad #.” (HR. al-Bazzar dari hadits Imran bin Hushain dengan sanad yang jayyid. Lihat at-Targhib no. 4467)
Hukum mendatangi Dukun dan Paranormal
Rasulullah # dalam beberapa hadits telah menerangkan keharaman sihir dalam semua bentuk, baik itu dalam bentuk perdukunan, teluh, jampi-jampi, paranormal, tukang ramal, ahli nujum dan semisalnya.
Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab Shahih beliau, bahwa Rasulullah # bersabda,
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.”
Abu Dawud didalam Kitab as-Sunan beliau, meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dari Nabi #,
“Barang siapa yang mendatangi dukun dan membenarkan segala yang dikatakannya, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Dan pada lafazh lainnya,
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu dia membenarkan segala yang dikatakannya, maka dia telah kafir terhadap –wahyu- yang diturunkan kepada Muhammad.”
(Rujukan: Ma’arij al-Qabul, ash-Shariim al-Battar , Fathul Madjid syarh Kitab at-Tauhid untu, al-Qaul al-Mufiid syarh Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Miftaah Daar as-Sa’adah, Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir)
Allah Ta’ala berfirman,
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﭼ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”
Firman Allah ta’ala,
ﭽ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﭼ
“Musa berkata: "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?" padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan".”
Firman-Nya ta’ala,
ﭽ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪﭫ ﭬ ﭭ ﭮﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭼ0
“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.(81) Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”
Dan firman-Nya,
ﭽ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﭼ
“Maka Musa merasa takut dalam hatinya.(67) Kami berkata: "janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".” (Thaahaa, ayat : 67-69)
ﭽ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭼ
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.(118) Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.(119) Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. (120) Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,(121) "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun".” (al-A’raaf, ayat : 117-122)
Dan firman Allah subhanahu,
ﭽ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﭼ
“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,(1) dari kejahatan makhluk-Nya,(2) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,(3) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (4) dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (al-Falaq: 1-4)
Al-Qurthubi menafsirkan, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” Yakni, sihir-sihir yang mana wanita-wanita tukang sihir itu menghembuskan pada buhul-buhul benang ketika menjampi-jampi /memanterainya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” Telah mengatakan Mujahid, Ikrimah, al-Hasan Qatadah dan adh-Dhahak, yakni wanita-wanita tukang sihir.
Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, yaitu dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul benang ketika mereka memanterainya, berkata al-Qasami, “Inilah sebagaimana yang dikatakan ahli takwil.”
Dalil-dalil dari as-Sunnah
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi # bahwa beliau bersabda, “Jauhilah kalian tujuh dosa besar yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketujuh dosa yang besar tersebut?”
Beliau # menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa Allah haramkan kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri disaat terjadinya peperangan dan menuduh wnaita-wanita muslimah yang telah bersuami lagi menjanda diri namun dalam keadaan lengah bahwa mereka melakukan zina.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah # bersabda,
“Barang siapa yang mempelajari salah satu cabang ilmu nujum, berarti dia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir. Semakian bertampah yang dipelajarinya, maka semakin bertambah pula (yaitu dosanya).”
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, bahwa Rasulullah # bersabda,
“Bukan bagian dari golongan kami yang melakukan tathayyur (meramal kesialan) atau seseorang yang melakukan praktek perdukunan atau mendatangi dukun, atau melakukan sihir dan minta untuk disihirkan. Dan siapa saja yang mendatangi seorang dukun lalu dia membenarkannya atas segala yang diucapkan –dukun tersebut-, maka sungguh orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.”
Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah # bersabda, “Tidak akan masuk surga pecandu khamar dan seseorang yang mempercayai sihir dan seseorang yang memutuskan tali silaturrahmi.”
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Barangsiapa mendatangi seorang peramal atau tukang sihir atau dukun, lalu dia bertanya dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad #.”
Abu Muhammad al-Maqdisi rahimahullah didalam kitab al-Kaafi mengatakan, “Sihir adalah jampi-jampi, mantra-mantra dan simpul-simpul ikatan yang memberikan pengaruh kepada hati dan badan, hingga seseorang dapat menjadi sakit dan terbunuh dan juga dapat memisahkan antara suami dan istrinya.
Allah ta’ala berfirman,
“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (al-Baqarah: 102)”
(Dikutip secara ringkas dari ash-Shaarim al-Battar)
Siapakah yang dinamakan Dukun?
Dalam persepsi syara’ yang dikategorikan sebagai dukun/ahli teluh adalah siapa saja yang mengklaim memiliki pengetahuan akan perkara-perkara gaib, walau melalu perantara selain dirinya sndiri. Pada tinjauan ini, termasuk dalam kategori dukun;
1. Kahin (dukun), mereka adalah orang-orang yang berinteraksi dengan syaitan, meminta bantuan syaitan tersebut untuk mendapatkan kabar dari langit. Lalu dukun (kahin) ini menyampaikannya kepada siapa saja yang bertanya kepadanya. Hanya saja penyampaian mereka seringkali disertai dengan kedustaan dan ucapan-ucapan manusia. Ketika perkataan dukun tersebut sesuai dengan kejadian yang ada, orang-orangpun menyangkan bahwa dukun ini mengetahui perkara gaib.
2. ar-Rammal, yaitu seseorang yang menggaris sesuatu di atas tanah atau selainnya untuk meramalkan hal-hal gaib.
3. an-Nusyrah, yaitu pengobatan sihir dengan mempergunakan sihir dan bantuan syaitan. Ibnul Jauzi mengatakan, “an-nusyrah adalah pengoabtan sihir dari seorang penderita sihir, yang hampir tidak mungkin dilakukan kecuali bagi seseorang yang mengetahui ilmu sihir.”
Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “an-nusyrah adalah bagian dari ilmu sihir.”
Dari hadits Jabir, Rasulullah # telah ditanya tentang an-nusyrah, lalu beliau # menjawab, “an-nusyrah adalah bagian dari amal syaitan.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad yang hasan)
4. al-Munajjim (ahli nujum), yaitu seseorang yang mempelajari ilmu nujum (atau dikenal dengan astereology) ataukah berkeyakinan bahwa an-nujum (bintang-bintang) memberikan pengaruh pada kejadian dan nasib seseorang. Ataukah bintang-bintang tersebut sebagai sebab kebaikan dan keburukan pada diri seseorang.
5. ath-tathayyur, yaitu meramalkan nasib buruk atau kesialan berdasarkan kejadian/hal yang terlihat, didengar atau suatu yang diketahuinya. Allah ta’ala berfirman,
“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-A’raf: 131)
At-tathayyur ini tergolong perbuatan syirik, jika terdapat rasa was-was, perasaan takut dan khawatir pada diri orang yang melakukannya. Adapun yang tidak memperdulikan hal tersebut, maka tidaklah termasuk perbuatan syirik.
6. al-‘Iyafah, yaitu ramalan kebaikan atau kesialan dengan menerbangkan burung. (Lihat an-Nihayah fii Ghariib al-Hadits, bab. Az-zai ma’a al-jiim)
Juga terkadang dengan nama dan suara burung bahkan dengan arah terbangnya.
7. ath-Thariq bil-hashaa, yaitu memukul-mukulkan batu-batuan untuk mengetahui dan meramalkan hal-hal gaib.
8. Paranormal, yaitu seseorang yang mengklaim pengetahuan ilmu gaib (metafisika) dan dapat berhubungan dengan dunia kasat mata (gaib). Baik pada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu tanpa disaksikannya atau yang akan terjadi di masa mendatang. Penamaan ini masuk dalam lingkup ‘arraf.
9. Tukang ramal (‘arraf), Ibnul Atsir menerangkan, “Bahwa yang dimaksud dengan ‘arraaf (peramal) adalah ahli nujum atau “orang pintar”, yang mengklaim mengetahui ilmu gaib padahal hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang mengetahui persoalan gaib. Tukang ramal ini termasuk dalam kategori kahin (dukun).”
10. Tukang teluh dan tukang sihir, yang meniupkan sihir/teluh pada jampi-jampi, mantera-mantera tetentu, buhul dan selainnya, sebagaimana disebutkan sebelumnya diatas.
Kesimpulannya, bahwa penamaan “dukun”, berlaku bagi siapa saja yang dengan segala cara dan metode mengklaim pengetahuan akan hal-hal gaib juga siapa saja yang berhubungan dengan syaitan untuk mengetahui perkara-perkara gaib.
Beberapa sebab Kekafiran para Dukun
1. Dikarenakan para dukun tersebut pada hakikatnya adalah pembantu-pembantu syaitan serta loyal kepada mereka. Dan syaitan tidak akan membantu seseorang kecuali orang tersebut loyal kepadanya. Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya syaitan akan memberikan wahyu kepada para wali mereka.” (al-An’am: 121)
2. Para dukun tersebut telah keluar dari cahaya iman dan hidayah dan terjerumus didalam jurang kekufuran dan kesesatan. Allah ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang kafir, wali mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan merek dari cahaya menuju kegelapan.” (al-Baqarah: 257)
3. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisa`: 119)
Para dukun tersebut tidak hanya menjadikan syaitan sebagai pelindung, bahkan sebagai pembantu, penolong dan wali mereka dalam praktek perdukunan tersebut.
4. Penamaan thaghut kepada para dukun, sebagaimana pada firman Allah subhanahu wata’ala,
“Dan mereka berkeinginan untuk berhukum kepada thaghut, sedangkan mereka telah diperintahkan untuk kufur kepadanya. Sesungguhnya syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang nyata.” (an-Nisa`: 60)
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berhukum kepada seorang dukun yang bernama Juhainah. Penyerupaan para dukun tersebut dengan Allah ta’ala pada sifat-sifat-Nya serta klaim keikut sertaan mereka dalam kuasa Rububuyah Allah. Karena perkara gaib adalah bagian dari sifat rububiyah Allah yang telah disembunyikannya disisi-Nya. Allah ta’ala berfirman,
“Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26-27)
5. Klaim mereka tersebut, yaitu mengetahui perkara gaib, mengandung pendustaan terhadap al-Qur`an al-Karim dan syariat yang Allah turunkan kepada para rasul-Nya.
6. Beberapa keterangan syara’ yang menunjukkan kekufuran orang-orang yang mendatangi para dukun, tukang teluh, penyihir, paranormal dan selainnya kemudian dia membenarkannya, tentulah menunjukkan kekufuran pelaku kekufuran itu sendiri. Dan juga Nabi # bersabda,
“Bukanlah bagi kami yang meramalkan kesialan atau meminta ramalan kesialan, yang melakukan praktek perdukunan dan mendatangi para dukun, yang melakukan sihir dan minta diberikan sihir. Barang siapa yang mendatangi seorang dukun lalu membenarkan semua yang dikatakannya, maka dia telah kufur kepada Muhammad #.” (HR. al-Bazzar dari hadits Imran bin Hushain dengan sanad yang jayyid. Lihat at-Targhib no. 4467)
Hukum mendatangi Dukun dan Paranormal
Rasulullah # dalam beberapa hadits telah menerangkan keharaman sihir dalam semua bentuk, baik itu dalam bentuk perdukunan, teluh, jampi-jampi, paranormal, tukang ramal, ahli nujum dan semisalnya.
Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab Shahih beliau, bahwa Rasulullah # bersabda,
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.”
Abu Dawud didalam Kitab as-Sunan beliau, meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dari Nabi #,
“Barang siapa yang mendatangi dukun dan membenarkan segala yang dikatakannya, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Dan pada lafazh lainnya,
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu dia membenarkan segala yang dikatakannya, maka dia telah kafir terhadap –wahyu- yang diturunkan kepada Muhammad.”
(Rujukan: Ma’arij al-Qabul, ash-Shariim al-Battar , Fathul Madjid syarh Kitab at-Tauhid untu, al-Qaul al-Mufiid syarh Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Miftaah Daar as-Sa’adah, Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir)
Kamis, 13 November 2008
As-Sunnah-Imam Ahmad
AS SUNNAH
AL IMAM AHMAD BIN HANBAL
Berkata Abul Husain Muhammad bin Abi Ya'la, Al Mubarak menceritakan kepada kami, beliau berkata, Abdul 'Azis Al Azjiy mengabarkan kepada kami, beliau berkata, Abu Bakar Al Mufid menceritakan kepada kami, beliau berkata, Al Hasan bin Isma'il Al Rib'iy menceritakan kepada kami, beliau berkata, Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus Sunnah, yang telah bersabar sewaktu adanya Mihnah – ujian/fitnah seputar masalah Al Qur'an -, berkata kepadaku : -
Telah sepakat sembilan puluh orang ulama tabi'in, para Imam kaum muslimin dan para Imam As-Salaf serta fuqaha' pada tiap zaman, bahwa As Sunnah yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sepeninggal beliau adalah : -
Sunah yang pertama : Adalah ridho dengan setiap Qadho' Allah – 'azza wajalla – dan meyerahkan diri pada setiap keputusan-Nya , bersabar pada semua hukum ketentuan-Nya, serta melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan- Nya.
Beriman kepada Al Qadar – Takdir - , yang baik maupun yang buruk.
Meninggalkan perdebatan yang sia-sia dan
Melakukan Jihad bersama setiap Khalifah, yang baik ataupun yang fajir.
Menshalati setiap yang meninggal dari Ahlul Qiblat.
Al-Iman adalah ujaran dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan perbuatan makshiyat.
Al-Qur`an Kalamullah, yang diturunkan kedalam hati Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam , dan bukanlah makhluq dari manapun dilantunkan.
Bersabar dibawah naungan panji seorang penguasa dengan segala yang nampak padanya, perbuatan adil ataukah perbuatan dholim.
Dan untuk tidak mengadakan pemberontakan pada setiap pemimpin ketika mereka berbuat hal-hal yang zhalim.
Dan tidak mengkafirkan seorang-pun dari Ahlut Tauhid, walapun ia melakukan perbuatan dosa besar.
Menahan diri dari segala yang telah diperselisihkan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Sebaik-baik kaum manusia – sepeninggal Rasulullah shallalllahu 'alaihi wasallam – adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Mendo'akan rahmat bagi setiap sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan pada anak keturunan beliau, para istri-istri beliau, para kerabat /mertua beliau – radhiallahu 'anhum ajma'in.
Dan inilah As-Sunnah , ketika kalian berpegang dengannya kalian akan meraih keselamatan.
AL IMAM AHMAD BIN HANBAL
Berkata Abul Husain Muhammad bin Abi Ya'la, Al Mubarak menceritakan kepada kami, beliau berkata, Abdul 'Azis Al Azjiy mengabarkan kepada kami, beliau berkata, Abu Bakar Al Mufid menceritakan kepada kami, beliau berkata, Al Hasan bin Isma'il Al Rib'iy menceritakan kepada kami, beliau berkata, Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus Sunnah, yang telah bersabar sewaktu adanya Mihnah – ujian/fitnah seputar masalah Al Qur'an -, berkata kepadaku : -
Telah sepakat sembilan puluh orang ulama tabi'in, para Imam kaum muslimin dan para Imam As-Salaf serta fuqaha' pada tiap zaman, bahwa As Sunnah yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sepeninggal beliau adalah : -
Sunah yang pertama : Adalah ridho dengan setiap Qadho' Allah – 'azza wajalla – dan meyerahkan diri pada setiap keputusan-Nya , bersabar pada semua hukum ketentuan-Nya, serta melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan- Nya.
Beriman kepada Al Qadar – Takdir - , yang baik maupun yang buruk.
Meninggalkan perdebatan yang sia-sia dan
Melakukan Jihad bersama setiap Khalifah, yang baik ataupun yang fajir.
Menshalati setiap yang meninggal dari Ahlul Qiblat.
Al-Iman adalah ujaran dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan perbuatan makshiyat.
Al-Qur`an Kalamullah, yang diturunkan kedalam hati Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam , dan bukanlah makhluq dari manapun dilantunkan.
Bersabar dibawah naungan panji seorang penguasa dengan segala yang nampak padanya, perbuatan adil ataukah perbuatan dholim.
Dan untuk tidak mengadakan pemberontakan pada setiap pemimpin ketika mereka berbuat hal-hal yang zhalim.
Dan tidak mengkafirkan seorang-pun dari Ahlut Tauhid, walapun ia melakukan perbuatan dosa besar.
Menahan diri dari segala yang telah diperselisihkan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Sebaik-baik kaum manusia – sepeninggal Rasulullah shallalllahu 'alaihi wasallam – adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Mendo'akan rahmat bagi setiap sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan pada anak keturunan beliau, para istri-istri beliau, para kerabat /mertua beliau – radhiallahu 'anhum ajma'in.
Dan inilah As-Sunnah , ketika kalian berpegang dengannya kalian akan meraih keselamatan.
Langganan:
Postingan (Atom)